Tiffany Menolak Mitos Karier Berakhir Setelah Jadi Ibu: 'Saya Justru Harus Bernyanyi Lebih Banyak'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi era 80-an Tiffany Darwish menegaskan kehamilan tidak menghentikan langkahnya di industri musik, bahkan memotivasinya untuk bekerja lebih keras demi anaknya.
- Ia menjadikan Madonna, Belinda Carlisle, dan Kim Wilde sebagai contoh perempuan yang sukses menyeimbangkan karier dan peran sebagai ibu.
- Di usianya yang ke-54, Tiffany tetap aktif berkarya, termasuk merilis buku masak bertema era 80-an, dan merasa bangga melihat putranya tumbuh menjadi pribadi dewasa yang mandiri.

Keyakinan bahwa menjadi ibu adalah akhir dari karier seorang penyanyi perempuan ditepis tegas oleh Tiffany Darwish. Pelantun hits "I Think We're Alone Now" ini justru menegaskan bahwa kehadiran anak menjadi pendorong baginya untuk terus berkarya dan bernyanyi, bukan alasan untuk berhenti.
Kepada ContactMusic, Tiffany mengaku kerap mendengar komentar sinis saat pertama kali hamil pada 1992. Banyak yang meramalkan karier musiknya akan meredup. Namun, responsnya tegas: "Saya justru perlu bernyanyi lebih banyak. Saya harus menghidupi anak saya." Baginya, menjadi ibu tidak lantas membuat seorang perempuan kehilangan relevansi di industri yang kerap keras terhadap perempuan.
Perempuan berusia 54 tahun ini mencontohkan Madonna, Belinda Carlisle, dan Kim Wilde sebagai bukti bahwa karier dan peran sebagai ibu bisa berjalan beriringan. Ketiganya, menurut Tiffany, berhasil menunjukkan bahwa seorang perempuan bisa tetap eksis di panggung musik sambil membesarkan anak. "Mereka adalah pemimpin saya," ujarnya, mengakui bahwa kehadiran figur-figur tersebut memberinya keyakinan untuk tidak menyerah pada tekanan sosial.
Perjalanan Tiffany di industri musik memang penuh catatan sejarah. Pada 1987, di usia 16 tahun, ia melesat menjadi bintang global. Setahun kemudian, album debutnya berjudul sama berhasil menyingkirkan album "Bad" milik Michael Jackson dari puncak Billboard 200, menjadikannya artis termuda yang pernah mencapai prestasi tersebut. Pada 2024, namanya diabadikan dalam California Music Hall of Fame, sebuah pengakuan atas kontribusinya yang panjang di dunia musik.
Di balik gemerlap karier, Tiffany mengaku kebanggaan terbesarnya adalah putra semata wayangnya, Elijah, yang kini berprofesi sebagai insinyur struktur. Ia menggambarkan hubungan mereka yang semakin dewasa, di mana ia bisa mendengarkan cerita tentang pekerjaan, hubungan asmara, hingga rencana membeli rumah sang anak. "Menjadi ibu adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya," tuturnya, seraya menambahkan bahwa melihat Elijah tumbuh menjadi pribadi yang baik dan pekerja keras adalah pencapaian yang tak ternilai.
Kisah Tiffany relevan dengan perbincangan di Indonesia tentang perempuan dan karier. Di tengah masih kuatnya stigma bahwa perempuan harus memilih antara keluarga atau pekerjaan, pengalaman Tiffany menjadi pengingat bahwa dukungan dan perubahan pola pikir sangat diperlukan. Industri musik Indonesia sendiri telah melahirkan banyak musisi perempuan yang sukses berkeluarga, seperti Krisdayanti dan Rossa, yang membuktikan bahwa karier dan peran sebagai ibu bisa berjalan beriringan.
Kini, di usia 54 tahun, Tiffany tidak hanya bernyanyi, tetapi juga merambah dunia kuliner lewat buku masak terbarunya. Putranya, Elijah, menjadi saksi betapa ibunya tidak pernah berhenti bermimpi. "Dia bilang, 'Mom, saya bangga kamu punya mimpi dan bertahan dengannya. Sekarang kamu punya buku masak dan mengejar hal-hal lain,'" kenang Tiffany. Dukungan sang anak menjadi bukti bahwa keputusan untuk terus berkarya tidak hanya berdampak pada karier, tetapi juga menginspirasi generasi berikutnya.
Kisah Tiffany mengajukan pertanyaan reflektif bagi industri musik Tanah Air: sudahkah kita memberikan ruang yang setara bagi perempuan untuk terus berkarya setelah menjadi ibu? Ataukah kita masih terjebak pada stereotip lama yang membatasi peran ganda mereka?



