Ryan Murphy Menangis Saat Syuting The Shards: Kenangan 1981 dan Epidemi HIV/AIDS yang Membekas
Baca dalam 60 detik
- Showrunner kondang Ryan Murphy mengaku terkejut oleh luapan emosinya saat memproduksi serial The Shards, adaptasi novel semi-otobiografi Bret Easton Ellis.
- Proses syuting memaksanya berhadapan dengan trauma masa muda di era awal HIV/AIDS, hingga ia memutuskan kembali menjalani terapi.
- Serial ini menjadi medium refleksi pribadi bagi Murphy, yang kini menilai masa lalunya dengan perspektif seorang ayah dari tiga anak.

Ryan Murphy, kreator di balik sederet serial populer seperti Glee dan American Horror Story, mengaku terkejut dengan kedalaman emosi yang ia rasakan selama proses syuting The Shards. Adaptasi novel semi-otobiografi Bret Easton Ellis ini mengisahkan masa remaja Ellis yang berubah mencekam ketika seorang pembunuh berantai mengincar sekolah persiapannya. Namun bagi Murphy, proyek ini bukan sekadar pekerjaan; ia menjadi perjalanan emosional yang memaksanya menengok kembali masa lalunya yang kelam.
Dalam wawancara dengan The Wrap, Murphy menuturkan bahwa banyak momen di lokasi syuting yang membuatnya menangis dan harus meninggalkan set. Bukan hanya karena ceritanya yang dekat dengan pengalaman pribadinya, tetapi juga karena latar waktu yang diangkat: awal 1980-an, tepatnya tahun 1981, ketika ia berusia 16 tahun dan dunia mulai diguncang oleh munculnya HIV/AIDS. "Saya kehilangan banyak teman yang tidak sempat tumbuh dewasa seperti saya," ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia merasa bersyukur bisa selamat dari periode tersebut.
The Shards tidak hanya mengangkat kisah pembunuhan, tetapi juga menyentuh epidemi HIV/AIDS yang saat itu masih jarang dibicarakan secara terbuka. Bagi Murphy, isu ini selalu menjadi subteks dalam karyanya, dan ia kerap mendiskusikannya dengan para pemeran. "Saya pikir saya sudah mengatasinya, ternyata belum. Saya mengalami banyak PTSD. Saya mulai menemui psikiater lagi," akunya. Proses syuting, menurutnya, membongkar kembali kenangan-kenangan yang menyenangkan sekaligus menyakitkan, seperti ciuman pertama, kegagalan ujian SIM, atau momen dansa pertamaโhal-hal yang kini ia lihat dengan perspektif baru sebagai orang tua.
Konteks Indonesia: Bagi penonton di Indonesia, The Shards menawarkan lebih dari sekadar drama remaja. Serial ini mengingatkan bahwa HIV/AIDS adalah isu yang masih relevan, termasuk di Indonesia yang hingga kini mencatat ribuan kasus baru setiap tahunnya. Kisah Murphy juga menyoroti pentingnya kesehatan mental, sebuah topik yang semakin mendapat perhatian di tengah meningkatnya kesadaran akan PTSD dan trauma masa kecil. Adaptasi ini bisa menjadi pintu masuk bagi diskusi yang lebih luas tentang bagaimana masa lalu membentuk identitas dan bagaimana seni dapat menjadi medium penyembuhan.
Murphy, yang kini menjadi ayah dari tiga anak, mengaku bahwa proyek ini memberinya kesempatan untuk merefleksikan masa mudanya dengan cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. "Saya belum pernah benar-benar mengerjakan sesuatu tentang masa kecil saya, yang menarik dan penuh gejolak," katanya. Dengan The Shards, ia seolah melakukan perjalanan waktu, menengok kembali dirinya yang berusia 17 tahun, lengkap dengan segala kegembiraan dan luka yang menyertainya.
Keputusan Murphy untuk kembali ke terapi menunjukkan bahwa proses kreatif bisa menjadi pisau bermata dua: di satu sisi membuka luka lama, di sisi lain memberi ruang untuk penyembuhan. Ia sendiri mengakui bahwa meskipun berat, proses pembuatan The Shards terasa menyenangkan. "Itu semacam permainan pikiran," katanya, merujuk pada campuran perasaan yang ia alami.
Pertanyaan yang kini menggantung: akankah The Shards mampu menyampaikan kompleksitas emosi tersebut kepada penonton? Dengan pengalaman pribadi yang begitu dalam, Murphy tampaknya telah menuangkan jiwa ke dalam karyanya. Namun, seperti halnya masa lalu yang tak pernah benar-benar usai, serial ini mungkin akan meninggalkan jejak emosional yang tak kalah kuat bagi mereka yang menontonnya.



