Dua Film AI Singapura untuk Hari Nasional Picu Perdebatan: Karya Kreatif atau Sekadar 'AI Slop'?
Baca dalam 60 detik
- Dua film Singapura yang sepenuhnya dibuat dengan AI, 'Bersama Majulah' dan 'Trace Project', tayang pada 9 Agustus dan menuai kritik pedas dari warganet.
- Para pembuat film membela karya mereka sebagai eksperimen dan menekankan peran manusia dalam proses kreatif, meskipun visual dihasilkan oleh AI.
- Perdebatan ini mencerminkan ketegangan global antara efisiensi teknologi dan nilai seni, serta berpotensi memengaruhi kebijakan festival film dan industri kreatif di Asia Tenggara.

Dua film Singapura yang sepenuhnya digarap dengan kecerdasan buatan (AI) dan dirilis bertepatan dengan Hari Nasional, 9 Agustus, memicu perdebatan sengit di media sosial. Sebagian warganet menyebut karya tersebut sebagai "AI slop"—istilah merendahkan untuk konten AI yang dianggap murahan—sementara yang lain mempertanyakan semakin besarnya peran teknologi generatif dalam industri perfilman.
Film pertama, Bersama Majulah, adalah film pendek produksi studio Edenstone yang berbasis di Singapura. Berkisah tentang parade Hari Nasional yang terganggu oleh wabah spora mematikan yang mengubah manusia menjadi zombie, film ini mengambil latar negara fiktif Lionara dengan ikon-ikon seperti Marina Bay dan Merlion. Di balik layar, ada nama Joel Boh sebagai showrunner, produser pemenang Golden Horse Chan Gin Kai, serta musisi Dharma Sadasivan yang mengisi lagu tema. Film ini merupakan spin-off dari serial animasi AI Spore Fall dan akan tayang di situs resmi seri tersebut.
Sementara itu, Trace Project garapan studio FizzDragon hadir sebagai film berdurasi satu jam yang mengikuti kisah Lin Jia Jun, astronaut pertama Singapura yang mendarat di Mars. Film ini akan diputar sekali di Golden Village VivoCity. Kedua film sama-sama menggunakan AI untuk menghasilkan visual, dialog, dan elemen produksi lainnya, yang kemudian menjadi sasaran kritik tajam.
Di platform seperti TikTok, YouTube, dan Instagram, sejumlah penonton menyebut Trace Project sebagai "AI slop" atau "mundur", dengan karakter yang "tidak hidup", "kosong", serta "dialog dan aksen yang mengerikan". Seorang pengguna bahkan menulis, "Saya tidak tahu apakah ini satire," sementara yang lain berkomentar bahwa film AI ini menandakan "tidak ada harapan bagi film di Singapura". Kritik serupa juga dialamatkan kepada Bersama Majulah, dengan seorang komentator YouTube menyesalkan bahwa "AI slop seperti ini bisa masuk berita lokal".
Menanggapi gelombang kritik, Pax Chen, pendiri dan CEO FizzDragon, membela Trace Project dalam unggahan LinkedIn. Ia menegaskan bahwa film tersebut adalah eksperimen, bukan klaim bahwa pembuatan film AI sempurna. "Ini hanyalah satu cerita, yang diciptakan dari pengalaman dan imajinasi satu orang, dan sebuah undangan bagi orang-orang untuk memutuskan pendapat mereka," tulisnya. Senada, Joel Boh dari Edenstone mengakui adanya "kelelahan terhadap 'AI slop'", tetapi menolak jika karyanya disebut demikian. "Jiwa dari karya ini sepenuhnya manusiawi," ujarnya. "Alur cerita, motivasi karakter, dan kebenaran emosional ditulis oleh kami jauh sebelum AI masuk. AI hanya menangani lapisan eksekusi—lingkungan, efek visual, dan skala produksi."
Perdebatan ini bukan hanya soal dua film, melainkan cermin dari pergulatan global tentang posisi AI dalam industri kreatif. Di kancah internasional, festival film mulai mengambil sikap. Festival Film Cannes, misalnya, tidak melarang AI secara total, tetapi film yang digerakkan oleh AI generatif tidak memenuhi syarat untuk bersaing memperebutkan Palme d'Or. Aturan Academy Awards yang diterbitkan Mei lalu juga menyatakan bahwa aktor dan penulis AI tidak memenuhi syarat untuk Oscar. Bahkan, Writers Guild of America East mengakhiri kemitraan 12 tahun dengan Urbanworld Film Festival setelah festival tersebut memperkenalkan program khusus film AI.
Di sisi lain, dukungan terhadap AI dalam pembuatan film juga menguat. Perusahaan video generatif asal AS, Runway, menggelar AI Festival tahunannya yang keempat pada Juli lalu, dan sejumlah festival film AI dijadwalkan berlangsung tahun ini. Para pendukung berargumen bahwa AI dapat menekan biaya produksi dan membuka ruang kreativitas yang sebelumnya terbatas. Namun, para penentang khawatir hilangnya sentuhan manusia akan menggerus nilai emosional dan keaslian yang dicari penonton.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan perkembangan industri kreatif yang mulai melirik AI. Beberapa rumah produksi lokal telah bereksperimen dengan teknologi serupa untuk iklan dan konten digital, meski belum ada film layar lebar yang sepenuhnya digarap AI. Pertanyaannya, apakah publik Indonesia akan menerima karya AI dengan antusiasme atau justru menolaknya seperti yang terjadi di Singapura? Regulasi dan kebijakan festival film di Indonesia, seperti Festival Film Indonesia, juga akan menjadi penentu apakah AI dipandang sebagai alat bantu atau ancaman bagi kreativitas manusia.
Ke depan, perdebatan ini kemungkinan akan semakin memanas seiring makin canggihnya teknologi AI. Akankah industri perfilman Asia Tenggara menemukan titik keseimbangan antara efisiensi teknologi dan nilai seni? Atau justru terbelah menjadi dua kubu yang saling berhadapan? Yang jelas, film-film seperti Bersama Majulah dan Trace Project telah membuka kotak pandora yang tidak akan bisa ditutup kembali.



