El Nino Berkah bagi Petani Garam Cirebon, Produksi Melonjak Hingga 600 Ton
Baca dalam 60 detik
- Kekeringan akibat El Nino mendongkrak produksi garam di Cirebon hingga 600 ton pada Juli, berbanding terbalik dengan tahun lalu yang hanya 25-30 ton.
- Fenomena iklim ini diprediksi berlanjut hingga awal 2027, memberikan peluang panen raya bagi sentra garam nasional meski petani tanaman pangan harus beradaptasi.
- Peningkatan produksi ini berpotensi memperkuat ketahanan pasokan garam domestik, namun tetap bergantung pada lamanya musim kemarau.

Musim kemarau panjang yang dipicu El Nino membawa berkah tersendiri bagi petani garam di pesisir utara Jawa, khususnya di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Alih-alih mengeluhkan panas yang menyengat, mereka justru menikmati lonjakan produksi yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Cirebon mencatat produksi garam pada Juli mencapai hampir 600 ton, melonjak drastis dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya berkisar 25โ30 ton.
Fenomena ini terjadi di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa El Nino akan bertahan hingga awal 2027. Lebih dari separuh zona musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau lebih awal dari biasanya, dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus. Kondisi ini memicu lebih dari 5.000 titik panas (hotspot) di seluruh negeri, meningkat tajam dibanding tahun-tahun El Nino sebelumnya.
Bagi petani garam, kondisi kering justru menjadi momentum emas. Dadang Darmawan, ketua kelompok petani garam setempat, menyebut El Nino sebagai anugerah yang patut disyukuri. "Kami berharap El Nino datang setiap tahun karena hasilnya melimpah," ujarnya. Hal senada diungkapkan Darminto, petani garam berusia 39 tahun, yang berharap musim kemarau berlangsung lebih lama agar ia bisa menabung hasil panen.
Namun, di balik euforia tersebut, terdapat ironi yang mencolok. Para petani tanaman pangan justru harus bersiap menghadapi gagal panen akibat kekeringan berkepanjangan. BMKG telah mengimbau petani untuk menggeser jadwal tanam dan menyesuaikan aktivitas pertanian. Kontras ini menggambarkan bagaimana satu fenomena iklim dapat menjadi berkah bagi satu sektor sekaligus menjadi malapetaka bagi sektor lainnya.
Secara nasional, peluang peningkatan produksi garam juga terbuka lebar. Cucu Sutara, ketua Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia, memperkirakan produksi garam nasional akan naik signifikan seiring panjangnya musim kemarau. Meski enggan memberikan angka pasti, ia optimistis pasokan garam dalam negeri akan membaik. Sebagai gambaran, pada El Nino 2023 produksi garam nasional mencapai 2,5 juta ton, jauh di atas produksi tahun lalu yang hanya 1 juta ton akibat La Nina.
Bagi Indonesia, yang memiliki 17.000 pulau dan garis pantai panjang, ketahanan garam merupakan isu strategis. Selama ini, sebagian besar kebutuhan garam industri masih dipenuhi impor. Lonjakan produksi domestik akibat El Nino dapat menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan tersebut, sekaligus memperkuat posisi tawar petani garam lokal.
Meski demikian, ketergantungan pada fenomena iklim membuat sektor ini rentan. Jika El Nino berakhir lebih cepat atau La Nina datang lebih awal, produksi garam bisa kembali anjlok. Pertanyaannya, apakah pemerintah dan pemangku kepentingan akan memanfaatkan momentum ini untuk membenahi tata kelola dan teknologi produksi garam nasional, atau sekadar menikmati bonus musim? Hanya waktu yang akan menjawab.



