Versant Media Naikkan Proyeksi Pendapatan 2026: Digital Menyelamatkan Bisnis Legacy
Baca dalam 60 detik
- Versant Media merevisi target pendapatan tahun fiskal 2026 menjadi US$6,2โ6,45 miliar, didorong pertumbuhan iklan dan platform digital.
- Divisi Platforms, yang menaungi Fandango dan Rotten Tomatoes, tumbuh 9,3% dan menjadi mesin pertumbuhan utama di tengah penurunan bisnis TV berbayar.
- Langkah ekspansi layanan streaming beriklan dan konten olahraga premium menjadi kunci strategi Versant menghadapi era digital.

Versant Media, konglomerat media asal New York, merevisi naik proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2026 menyusul kinerja solid dari lini bisnis digital dan periklanan yang berhasil mengompensasi pelemahan pendapatan TV berbayar. Dalam laporan keuangan kuartal kedua yang dirilis Kamis (6/8), perusahaan menaikkan estimasi pendapatan menjadi US$6,2 miliar hingga US$6,45 miliar, dari sebelumnya US$6,15โ6,4 miliar. Saham Versant pun merespons positif dengan melonjak 7,4% di perdagangan pra-pasar.
Pendorong utama revisi ini adalah divisi Platforms, yang mencakup Fandango, Rotten Tomatoes, dan GolfNow. Segmen ini mencatat pertumbuhan pendapatan 9,3% di luar bisnis SportsEngine yang telah dilepas, menjadikannya lini usaha dengan laju ekspansi tercepat. Manajemen Versant kini menempatkan Platforms sebagai motor pertumbuhan utama, sementara bisnis legacy seperti TV berlangganan dan distribusi linear terus menyusut.
Pada kuartal kedua, Versant meluncurkan layanan streaming beriklan Fandango yang mengintegrasikan penjualan tiket bioskop, hiburan rumah, dan streaming gratis dalam satu ekosistem. Dengan sekitar 50 juta pengunjung bulanan di Fandango dan Rotten Tomatoes, perusahaan memiliki basis audiens besar yang siap dimonetisasi melalui iklan dan langganan. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana platform streaming beriklan (AVOD) semakin diminati konsumen yang ingin menghindari biaya langganan tinggi.
Namun, bisnis inti Versant masih menghadapi tekanan struktural. Pendapatan distribusi linear turun 6,3% pada periode AprilโJuni akibat terus berkurangnya pelanggan TV kabel dan satelit. Fenomena cord-cutting ini bukan hanya dialami Versant, tetapi juga melanda industri media di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana layanan streaming seperti Netflix, Disney+, dan Vidio semakin menggeser televisi tradisional.
Di tengah pelemahan tersebut, divisi berita justru menunjukkan performa gemilang. CNBC mencatat kuartal dengan rating tertinggi dalam lima tahun terakhir, didorong liputan IPO SpaceX yang menjadi hari dengan rating tertinggi, serta wawancara Andrew Ross Sorkin dengan Jeff Bezos yang meraup lebih dari 100 juta views video di berbagai platform. Sementara itu, kanal berita MS NOW tengah menyiapkan layanan direct-to-consumer yang menawarkan konten eksklusif melalui tier beriklan dan premium untuk menjaring audiens muda digital-native.
Paruh kedua tahun ini, Versant mengandalkan agenda olahraga padat, termasuk NASCAR, kembalinya Premier League, WWE, dan kesepakatan hak siar Bundesliga selama lima tahun. Investasi pada konten olahraga premium menjadi strategi untuk mempertahankan pelanggan dan menarik pengiklan, meski biaya hak siar yang tinggi kerap menggerus margin.
Bagi pasar Indonesia, strategi Versant memberikan gambaran bagaimana raksasa media global beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Perusahaan lokal seperti MNC Group dan EMTEK juga menghadapi tantangan serupa dalam menyeimbangkan bisnis TV konvensional dengan platform digital. Keberhasilan Versant dalam memonetisasi audiens digital melalui AVOD dan konten eksklusif bisa menjadi referensi bagi pelaku industri di Tanah Air yang tengah menjajaki model bisnis serupa.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pertumbuhan digital Versant mampu sepenuhnya menambal penurunan bisnis legacy dalam jangka panjang. Dengan proyeksi pendapatan yang dinaikkan, pasar tampaknya optimistis. Namun, tekanan biaya konten dan persaingan ketat dari pemain global seperti Netflix dan Amazon Prime Video tetap menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Apakah Versant akan terus mengandalkan akuisisi konten olahraga mahal, atau justru beralih ke produksi original yang lebih efisien? Waktu yang akan menjawab.



