Partai Berkuasa Pakistan Unggul di Kashmir: Kemenangan di Tengah Boikot dan Ketegangan Politik
Baca dalam 60 detik
- Partai PML-N menang telak pada dua fase awal pemilu legislatif Kashmir, menguasai 24 dari 34 kursi yang sudah dihitung.
- Partisipasi pemilih tetap tinggi (56% di ibu kota) meski ada ancaman kekerasan dan ajakan boikot dari kelompok terlarang JAAC.
- Kemenangan ini menandai kembalinya PML-N berkuasa setelah satu dekade, namun sengketa kursi reservasi masih menjadi bom waktu politik.

Partai berkuasa Pakistan, PML-N yang didukung Nawaz Sharif, unggul jauh dalam pemilihan Majelis Legislatif di Kashmir yang dikelola Pakistan. Berdasarkan hasil dua fase pemungutan suara yang diumumkan Rabu (5/8), partai tersebut meraih 24 dari 34 kursi yang telah ditentukan, sekaligus mengisyaratkan kembalinya mereka ke tampuk kekuasaan regional setelah sepuluh tahun absen.
Juru bicara komisi pemilihan regional, Raja Shakeel, mengonfirmasi bahwa tingkat partisipasi pemilih di ibu kota Muzaffarabad menembus 56 persen. Angka ini dianggap luar biasa mengingat kampanye dibayangi oleh ancaman keamanan, hujan deras, serta seruan boikot dari kelompok yang dilarang bernama Joint Awami Action Committee (JAAC). Fase ketiga untuk 11 kursi tersisa dijadwalkan berlangsung pada 10 Agustus, namun PML-N dipastikan akan membentuk pemerintahan berikutnya.
Kemenangan ini bukan sekadar pergeseran kekuasaan biasa. Ia terjadi di tengah gelombang protes dan kekerasan yang dipicu oleh sengketa 12 kursi reservasi bagi pengungsi dari Kashmir yang dikuasai India. JAAC, kelompok yang dibentuk pada 2023, menilai kursi tersebut memberikan pengaruh politik yang tidak proporsional kepada warga yang tinggal di luar wilayah itu. Mereka menuntut penghapusan kursi, namun Mahkamah Agung regional pada Juni lalu memutuskan bahwa kursi tersebut dilindungi konstitusi dan tidak bisa dihapus tanpa amandemen.
Pemerintah regional merespons dengan melarang JAAC dengan alasan keamanan dan ketertiban umum. Otoritas bahkan menuduh anggota Taliban Pakistan menyusup ke dalam aksi protes, sebuah tuduhan yang belum ditanggapi JAAC. Meski demikian, analis menilai tingginya partisipasi pemilih menunjukkan kepercayaan publik terhadap proses demokrasi tetap kuat, meski ada ancaman kekerasan dan ajakan boikot.
Bagi Indonesia, dinamika politik di Kashmir Selatan ini relevan sebagai cermin bagaimana negara dengan populasi Muslim besar mengelola ketegangan identitas dan teritorial. Pengalaman Pakistan dalam menghadapi kelompok yang menuntut perubahan struktural melalui jalur protes dan boikot dapat menjadi pelajaran berharga, terutama dalam konteks menjaga stabilitas demokrasi di tengah tekanan kelompok kepentingan. Selain itu, sengketa Kashmir yang melibatkan dua negara nuklir, Pakistan dan India, tetap menjadi salah satu titik rawan geopolitik yang memengaruhi stabilitas kawasan Asia Selatan, dan secara tidak langsung berdampak pada dinamika keamanan regional yang juga menjadi perhatian Indonesia.
Pemerintah mengklaim telah menerima 36 dari 38 tuntutan JAAC, namun isu kursi reservasi disebut hanya bisa diselesaikan oleh majelis. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada ruang dialog, penyelesaian sengketa masih panjang dan berpotensi memicu gejolak politik di masa depan. Nawaz Sharif, dalam pernyataannya, mengucapkan selamat kepada para kandidat yang menang, sebuah sinyal bahwa partainya siap memimpin dan berupaya meredam ketegangan.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah PML-N mampu menjembatani kepentingan kelompok yang memboikot dan menyelesaikan sengketa kursi reservasi tanpa memicu konflik baru. Pengalaman Pakistan menunjukkan bahwa kemenangan elektoral tidak otomatis menyelesaikan akar masalah politik. Bagi pengamat regional, ujian sebenarnya adalah bagaimana partai berkuasa mengelola keberagaman aspirasi di wilayah yang secara historis rawan konflik.



