Polisi Korsel Geledah Kantor PSSI-nya: Dugaan Rekayasa di Balik Penunjukan Hong Myung-bo
Baca dalam 60 detik
- Penyidik Korea Selatan menggeledah kantor federasi sepak bola terkait dugaan penyalahgunaan wewenang dalam proses seleksi pelatih timnas.
- Kegagalan di Piala Dunia 2026 memicu investigasi parlemen dan tekanan publik terhadap praktik perekrutan yang dinilai sarat kepentingan.
- Kasus ini menjadi alarm bagi federasi Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat tata kelola dan transparansi dalam manajemen pelatih.

Kepolisian Korea Selatan pada Kamis (6/8) menggeledah kantor Asosiasi Sepak Bola Korea (KFA) di Seoul sebagai bagian dari penyelidikan atas dugaan manipulasi dalam penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih timnas. Langkah ini menyusul kegagalan Korea Selatan melaju ke babak gugur Piala Dunia 2026, yang memicu kemarahan publik dan sorotan tajam terhadap manajemen sepak bola negeri Ginseng.
Juru bicara kepolisian mengonfirmasi bahwa operasi penggeledahan dan penyitaan dilakukan untuk mengumpulkan bukti terkait tuduhan "penghalangan usaha" dalam proses rekrutmen Hong. Hong, yang berusia 57 tahun, mengundurkan diri pada Juni lalu setelah timnya tersingkir secara mengejutkan setelah kalah 0-1 dari Afrika Selatan. Kekalahan tersebut menjadi pukulan telak bagi publik Korea Selatan yang menargetkan lolos ke babak 16 besar.
Kontroversi sebenarnya sudah mencuat sejak penunjukan Hong pada 2024. Banyak pihak mempertanyakan proses seleksi yang dinilai tidak transparan dan sarat kepentingan politik internal. Namun, kritik semakin menguat setelah performa buruk di Piala Dunia. Pada akhir Juli, Hong dipanggil komite parlemen untuk memberikan keterangan. Dalam kesempatan itu, ia menyatakan menerima "tanggung jawab penuh" atas hasil buruk tim, namun tidak menyebut adanya campur tangan pihak lain.
Presiden Lee Jae-myung, dalam pernyataannya, menyalahkan kegagalan tersebut pada "orang-orang yang tidak kompeten" yang menduduki posisi kepemimpinan. Ia juga mengisyaratkan adanya praktik "loyalitas dan faksionalisme" yang mewarnai perekrutan di level tertinggi sepak bola Korea Selatan. Pernyataan ini mempertegas dugaan bahwa penunjukan pelatih tidak didasarkan pada meritokrasi, melainkan pada kedekatan politik dan kelompok.
Kasus ini menjadi preseden penting bagi federasi sepak bola di Asia, termasuk Indonesia. Di tengah upaya PSSI membenahi timnas dan merekrut pelatih asing, kasus KFA mengingatkan bahwa transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi pelatih adalah harga mati. Publik Indonesia pun semakin kritis terhadap keputusan PSSI, terutama setelah beberapa kali pergantian pelatih yang diiringi kontroversi. Jika KFA saja bisa digeledah polisi, bagaimana dengan federasi lain yang prosesnya kurang terbuka?
Para pengamat menilai bahwa investigasi ini bisa membuka kotak pandora masalah lama di sepak bola Korea Selatan, termasuk praktik nepotisme dan intervensi politik. Langkah polisi ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberantas korupsi di olahraga, yang selama ini sering dianggap sebagai lahan basah kepentingan. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah ini hanya operasi pencitraan politik, atau akankah ada tuntutan hukum yang menjerat para petinggi KFA?
Ke depan, kasus ini akan menjadi ujian bagi kredibilitas KFA dan komitmen pemerintah Korea Selatan untuk membersihkan sepak bola dari praktik-praktik buruk. Bagi Indonesia, pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya membangun sistem rekrutmen pelatih yang berbasis data dan kompetensi, bukan sekadar kedekatan personal. Jika tidak, bukan tidak mungkin PSSI akan menghadapi sorotan serupa di masa mendatang.



