Eli Roth: Era Streaming Membunuh Royalti Pembuat Film, Horor Kini Makin Sulit
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Eli Roth menilai platform streaming seperti Netflix menghapus pendapatan residual yang dulu menjadi andalan sineas.
- Roth mendirikan perusahaan independen The Horror Section untuk memegang kendali penuh atas hak cipta karyanya.
- Ia mengkritik stigma kritikus yang kerap meremehkan film horor sebagai kekerasan tanpa makna.

Sutradara Eli Roth, yang namanya identik dengan genre horor, kembali melontarkan kritik tajam terhadap dominasi platform streaming. Pria 54 tahun itu menilai Netflix dan sejenisnya telah mengubah secara fundamental lanskap industri perfilman, terutama dalam hal distribusi pendapatan. Lewat wawancara dengan Variety, ia mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya royalti yang dulu dinikmati para sineas dari penjualan DVD dan penayangan di televisi kabel.
Menurut Roth, pada era keemasan video rumahan, studio dan pembuat film sama-sama menuai keuntungan besar. Namun, ketika streaming masuk, sistem residual—pembayaran berkala atas penayangan ulang—lenyap begitu saja. "Ketika film tayang di Netflix, Anda tidak mendapatkan uang sepeser pun," ujarnya. Kondisi ini, lanjutnya, memaksa para pembuat film untuk berpikir ulang tentang model bisnis yang selama ini mereka andalkan.
Di tengah gempuran platform digital, Roth justru melihat peluang untuk mengambil kendali atas karya sendiri. Pada 2025, ia mendirikan The Horror Section, sebuah perusahaan genre independen. Langkah ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan juga bentuk perlawanan terhadap ketimpangan hak cipta yang selama ini ia rasakan. "Novelis memiliki hak atas cerita mereka, tetapi penulis skenario tidak. Stephen King memiliki semua ciptaannya. Mengapa saya harus menciptakan sesuatu lalu menyerahkan kepemilikannya?" tegasnya.
Roth juga menyoroti tantangan unik dalam membuat film horor di era modern. Baginya, esensi horor adalah transgresi—melanggar batas kenyamanan penonton. Namun, studio besar cenderung menghindari hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan atau kontroversial. "Mereka ingin karyanya dirayakan dan diterima secara sosial," katanya. Akibatnya, banyak film horor yang lahir dari studio justru kehilangan ketajaman dan keberaniannya.
Di luar soal ekonomi, Roth juga mengaku frustrasi dengan cara kritikus memperlakukan film horor. Ia menilai genre ini sering kali dihakimi sebagai kekerasan tanpa makna, meski banyak karya yang sebenarnya sarat pemikiran. "Ada banyak film horor yang memang sekadar kekerasan, dan saya menyukainya. Tapi ketika Anda memasukkan ide-ide serius, film itu tetap saja diremehkan," keluhnya. Untuk mengatasi hal ini, Roth kerap menambahkan komentar audio dalam film-filmnya sebagai ruang menjelaskan maksud dan ambisinya.
Bagi penikmat film di Indonesia, kritik Roth ini relevan dengan maraknya platform streaming yang kini menjadi tontonan utama. Pertanyaan besarnya: akankah model bisnis streaming yang menguntungkan konsumen ini justru mematikan kreativitas jangka panjang? Atau justru memunculkan gelombang baru sineas independen yang berani mengambil risiko, seperti yang dilakukan Roth? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: perdebatan tentang keadilan ekonomi di industri kreatif tidak akan berhenti di sini.



