Atlet Angkat Besi Belgia Mengaku Tak Aman Berlaga Usai Insiden Rasis: 'Saya Trauma'
Baca dalam 60 detik
- Atlet powerlifting Belgia, Sonita Muluh, didiskualifikasi setelah spotter menyentuh barbelnya dengan lutut, yang kemudian diakui sebagai tindakan rasis di media sosial.
- Polisi Lituania membuka penyelidikan kriminal terhadap Ernestas Kusinas atas komentar rasisnya, yang bisa berujung hukuman penjara hingga dua tahun.
- Kasus ini memicu kritik terhadap federasi internasional dan menyoroti kurangnya perlindungan bagi atlet minoritas di ajang olahraga.

Atlet angkat besi asal Belgia, Sonita Muluh, mengaku tidak lagi merasa aman saat bertanding setelah insiden yang menurutnya bermotif rasial membuatnya gagal memecahkan rekor dunia. Peristiwa yang terjadi pada Kejuaraan Powerlifting di Lituania, Juni lalu, kini berbuntut panjang hingga penyelidikan kriminal dan kecaman luas terhadap federasi olahraga tersebut.
Muluh, yang tengah mencoba mengangkat beban 334,5 kilogram, gagal setelah seorang ofisial bernama Ernestas Kusinas menyentuh barbel dengan lututnya. Wasit kemudian mendiskualifikasi Muluh karena pelanggaran teknis terpisah, tanpa memberinya kesempatan mengulang. Namun, lima minggu kemudian, Kusinas mengejutkan publik dengan menulis di Instagram, "Saya rasis, dan saya melakukannya dengan sengaja." Pernyataan itu memicu penyelidikan polisi Lituania dan larangan seumur hidup dari Federasi Powerlifting Lituania.
Bagi Muluh, pengakuan itu menghancurkan. "Saya terbangun lima minggu kemudian dan semuanya sudah tersebar di internet bahwa dia melakukannya dengan sengaja karena warna kulit saya," ujarnya kepada BBC Sport. Atlet berusia 29 tahun itu mengaku awalnya mengira insiden tersebut hanyalah kecelakaan. Ia bahkan sempat berharap Kusinas tidak mendapat kebencian. Namun, setelah mengetahui niat sebenarnya, rasa amannya hilang. "Saya merasa tidak aman dan tidak nyaman bahwa orang ini berdiri di samping saya dengan beban yang sangat berat, dengan segala risiko yang bisa terjadi," tambahnya.
Muluh juga menyalahkan Federasi Powerlifting Internasional (IPF) yang dianggapnya gagal melindungi atlet. Ia menuntut adanya pemeriksaan latar belakang bagi ofisial yang bertugas. "Jika Anda akan menaruh nyawa saya di tangan orang lain, setidaknya pastikan orang itu mampu melindungi saya," tegasnya. Ia merasa federasi lalai dan membahayakan nyawanya. Kritik ini muncul setelah IPF baru bertindak cepat setelah kasus ini viral, bukan sejak awal insiden terjadi.
Kusinas, melalui Reuters, membantah niat rasisnya. Ia mengaku komentar di Instagram itu hanya ekspresi kemarahan setelah dituduh rasis oleh pengguna media sosial yang tidak dikenal. "Itu bukan pernyataan, melainkan ejekan terhadap tuduhan itu," katanya. Ia juga mengaku tidak sengaja mengganggu upaya Muluh dan atlet lain karena kelelahan setelah bertugas. Namun, pernyataan ini dinilai tidak meyakinkan oleh banyak pihak, terutama setelah ia mengaku 'sengaja' di media sosial.
Kasus ini memicu diskusi lebih luas tentang rasisme dalam olahraga, terutama di cabang yang kurang populer seperti powerlifting. Muluh mengaku kerap mendapat perlakuan tidak menyenangkan di ajang internasional. "Orang-orang memandang rendah kami di Lituania dengan cara yang menjijikkan. Saat bertanding di Polandia, seseorang bersin di wajah saya di bandara," ungkapnya. Ia juga menyoroti kurangnya dukungan dari atlet-atlet besar. "Banyak nama besar tidak mengatakan apa-apa. Mereka tidak menghubungi saya. Semua atlet kulit hitam justru saling mendukung," katanya.
Federasi Powerlifting Lituania dalam pernyataannya mengaku terkejut dengan tindakan Kusinas dan menyatakan akan bertanggung jawab penuh. Sementara itu, IPF mengutuk keras rasisme dan berjanji memperketat seleksi serta pengawasan terhadap sukarelawan di ajang mereka. Namun, bagi Muluh, permintaan maaf dan sanksi tidak akan menghapus trauma. "Saya berlatih keras melewati cedera untuk bersiap. Saya mempertaruhkan tubuh saya untuk hal ini. Tidak akan ada keadilan yang sejati," tuturnya.
Di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa perlindungan atlet dari diskriminasi masih lemah di banyak negara. Federasi olahraga nasional perlu mengevaluasi prosedur keamanan dan sensitivitas budaya, terutama saat menjadi tuan rumah ajang internasional. Pertanyaannya, apakah federasi-federasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sudah memiliki mekanisme pengaduan yang efektif dan sanksi tegas bagi pelaku rasisme? Atau akankah kasus serupa terulang di masa depan?



