Siaga Kabut Asap: Singapura Siapkan Langkah Antisipasi di Tengah Peringatan Level 2 ASEAN
Baca dalam 60 detik
- Pusat Meteorologi Khusus ASEAN menaikkan level siaga kabut asap ke level 2, menandakan risiko polusi udara lintas batas yang meningkat.
- Pemerintah Singapura memastikan stok masker dan alat pembersih udara mencukupi, serta mengaktifkan gugus tugas untuk merespons jika kualitas udara memburuk.
- Fenomena El Niรฑo memperparah kondisi kering di kawasan Asia Tenggara, meningkatkan potensi kebakaran hutan dan kabut asap yang berdampak pada Indonesia, Singapura, dan negara tetangga.

Singapura menyatakan kesiapannya mengaktifkan rencana kontingensi apabila kabut asap lintas batas mulai mengganggu kualitas udara di negara kota tersebut. Pernyataan ini disampaikan Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Grace Fu pada Rabu (5/8), menyusul keputusan Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) yang menaikkan level siaga menjadi level 2, satu tingkat di bawah status tertinggi.
Level 2 mengindikasikan peningkatan aktivitas titik panas yang signifikan, dengan asap pekat yang terpantau selama dua hari berturut-turut atau lebih. Berdasarkan pemantauan satelit pada Rabu, titik api tersebar terutama di Sumatra dan Kalimantan, Indonesia. Dalam beberapa hari terakhir, asap dari Kalimantan bahkan mulai terbawa angin hingga ke Sarawak, Malaysia, meski arah angin saat ini belum mengarah ke Singapura.
Menanggapi situasi ini, Fu menegaskan bahwa gugus tugas kabut asap (Haze Task Force) yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga telah bersiaga penuh. "Kami telah memastikan stok masker nasional mencukupi, dan sekolah, prasekolah, serta fasilitas hunian dan perawatan dilengkapi dengan pembersih udara," ujarnya dalam jawaban tertulis atas pertanyaan parlemen dari Anggota Parlemen Joan Pereira. Prioritas utama, kata Fu, adalah melindungi kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, serta menjaga kelancaran aktivitas sehari-hari dan layanan esensial.
Keputusan ASMC ini tidak terlepas dari kondisi iklim regional. Kawasan Asia Tenggara bagian selatan kini tengah memasuki musim kemarau, dan tahun ini diprediksi lebih panas serta kering akibat fenomena El Niรฑo. Kombinasi ini meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, yang berpotensi memicu kabut asap transboundary. Layanan Meteorologi Singapura (MSS) memperkirakan cuaca kering akan berlangsung setidaknya sepekan ke depan, sehingga risiko kabut asap akan meningkat jika pembakaran lahan di Kalimantan dan Sumatra selatan semakin intensif.
Bagi Indonesia, kabut asap lintas batas bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga menyangkut hubungan diplomatik dan kesehatan masyarakat. Kebakaran hutan yang kerap terjadi di Sumatra dan Kalimantan setiap musim kemarau sering kali menjadi sumber utama kabut asap yang menyelimuti Singapura, Malaysia, dan sebagian wilayah Indonesia sendiri. Pemerintah Indonesia sebenarnya telah berupaya menekan angka kebakaran melalui berbagai kebijakan, termasuk moratorium lahan gambut dan penegakan hukum. Namun, tantangan di lapangan masih besar, terutama saat El Niรฑo memperpanjang musim kemarau.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, otoritas Singapura telah meningkatkan komunikasi publik sejak Mei lalu. Berbagai kanal seperti situs web Badan Lingkungan Hidup Nasional (NEA), mikro-situs khusus kabut asap, aplikasi myENV, dan media sosial digunakan untuk menyebarkan informasi terkini mengenai kualitas udara dan panduan kesehatan. Fu menambahkan, "NEA akan terus bekerja sama dengan media untuk mendukung pelaporan tepat waktu tentang kualitas udara dan saran kesehatan, sehingga sekolah, pengusaha, dan masyarakat luas dapat tetap mendapat informasi dan merespons dengan tepat bila kualitas udara terpengaruh."
Meski angin saat ini belum mengarahkan asap ke Singapura, situasi dapat berubah sewaktu-waktu. Pertanyaannya, seberapa cepat respons regional dapat dikoordinasikan untuk mencegah krisis kabut asap yang lebih parah, mengingat pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi? Jawabannya akan menentukan tidak hanya kualitas udara di kawasan, tetapi juga efektivitas kerja sama ASEAN dalam menghadapi tantangan lingkungan bersama.



