Kebakaran Flat Singapura Renggut Nyawa Lansia 88 Tahun: Kronologi dan Pelajaran untuk Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Korban tewas merupakan salah satu dari lima penghuni yang terjebak dalam kebakaran di lantai lima, dengan tiga di antaranya ditemukan tak sadarkan diri.
- Insiden ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan kebakaran di bangunan tinggi, terutama bagi warga lanjut usia yang rentan.
- Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah kebakaran fatal lain di Clementi, memicu evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kebakaran di Singapura.

Seorang pria lanjut usia berusia 88 tahun meninggal dunia pada Rabu (5/8) setelah dua hari dirawat intensif akibat luka bakar dan sesak napas yang dideritanya dalam kebakaran hebat di sebuah flat lantai lima di Race Course Road, Singapura. Peristiwa yang terjadi pada Senin (3/8) itu juga menjebak empat orang lainnya, menjadikan insiden ini salah satu yang paling memilukan dalam sepekan terakhir di negara kota tersebut.
Menurut keterangan kepolisian setempat, pria tersebut ditemukan dalam keadaan tidak sadarkan diri saat dievakuasi oleh tim penyelamat. Ia merupakan satu dari lima korban berusia 55 hingga 88 tahun yang dilarikan ke rumah sakit. Operasi penyelamatan berlangsung dramatis: polisi terpaksa mendobrak pintu flat yang terkunci untuk menyelamatkan seorang perempuan, sementara petugas Singapore Civil Defence Force (SCDF) kemudian mengevakuasi empat korban lainnya. Dari lima korban, tiga di antaranya ditemukan dalam kondisi kritis tanpa kesadaran.
Kebakaran yang menghanguskan salah satu kamar tidur di unit tersebut berhasil dipadamkan dengan semprotan air bertekanan tinggi. Sekitar 50 warga dari blok yang sama dievakuasi selama operasi berlangsung. Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, namun dugaan awal mengarah pada korsleting listrik atau kelalaian penggunaan alat pemanas, sebuah pola yang kerap menjadi pemicu kebakaran di kawasan padat penduduk.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah kebakaran fatal di Clementi yang merenggut satu nyawa dan melukai dua petugas pemadam. Dalam kejadian tersebut, SCDF mengungkapkan bahwa sistem pasokan air darurat (dry rising main) di gedung tidak berfungsi dengan baik, sehingga petugas terpaksa mengangkut selang hingga delapan lantai. Temuan ini memicu kekhawatiran tentang kesiapan infrastruktur keselamatan kebakaran di Singapura, yang selama ini dianggap sebagai salah satu yang terbaik di Asia.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya standar keselamatan kebakaran yang ketat, terutama di hunian vertikal yang semakin marak di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Data dari Dinas Penanggulangan Kebakaran DKI Jakarta mencatat ratusan kebakaran setiap tahunnya, dengan sebagian besar terjadi di permukiman padat penduduk. Minimnya kesadaran akan jalur evakuasi, alat pemadam api ringan (APAR), dan sistem deteksi dini sering kali memperparah korban jiwa.
Para ahli keselamatan kebakaran menilai bahwa insiden di Race Course Road menyoroti dua hal krusial: pertama, perlunya pelatihan evakuasi rutin bagi penghuni gedung tinggi, terutama lansia yang memiliki mobilitas terbatas; kedua, pentingnya perawatan berkala terhadap peralatan pemadam kebakaran, seperti yang gagal berfungsi di Clementi. Di Indonesia, regulasi tentang keselamatan kebakaran sebenarnya sudah ada, namun implementasi dan pengawasannya masih lemah, terutama di gedung-gedung tua yang tidak memiliki sertifikat laik fungsi.
Ke depan, pemerintah Singapura dipastikan akan melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh sistem proteksi kebakaran di flat-flat umum, mengingat dua insiden dalam waktu berdekatan. Pertanyaan yang menggantung: apakah Indonesia akan belajar dari kejadian ini sebelum tragedi serupa terjadi di dalam negeri? Dengan meningkatnya pembangunan hunian vertikal, jawabannya menjadi semakin mendesak.



