Duo Wings of Desire Gugat Festival Valley Fest: Panggung yang Dijanjikan Tak Pernah Ada
Baca dalam 60 detik
- Duo asal Inggris itu mengaku dijanjikan tampil di Valley Fest, namun panggung yang mereka tuju ternyata tidak ada dalam denah lokasi.
- Mereka membawa bayi berusia 11 minggu dan harus pulang tanpa manggung, memicu kritik terhadap perlakuan industri musik terhadap musisi.
- Penyelenggara menyalahkan miskomunikasi, tetapi Wings of Desire menolak permintaan maaf dan menuntut kompensasi.

Duo art-rock asal Inggris, Wings of Desire, mengaku menjadi korban penipuan setelah dijadwalkan tampil di Valley Fest, festival musik di dekat Bristol, Inggris, namun harus pulang tanpa membawakan satu lagu pun. Pasangan suami istri James Taylor dan Chloe Little mengungkapkan bahwa panggung yang mereka tuju ternyata tidak pernah ada, bahkan tidak tercantum dalam peta resmi acara.
Dalam unggahan Instagram yang ramai diperbincangkan, mereka menceritakan pengalaman pahit yang mereka alami pada akhir pekan lalu. Tidak hanya membawa perlengkapan musik, mereka juga membawa bayi mereka yang masih berusia 11 minggu. "Kemasi mobil, bawa bayi yang masih menyusu, kereta dorong, pelindung telinga, popok, beberapa kali ganti baju, nenek untuk menjaga bayi, gitar, organ, dan mikrofon," tulis mereka, menggambarkan persiapan yang melelahkan.
Sesampainya di lokasi, kebingungan pun dimulai. Tidak ada panitia yang tahu di mana mereka harus tampil. Mereka berjalan kaki mengelilingi area festival sambil mendorong kereta bayi yang diisi peralatan, namun ditolak di setiap tenda. Nomor kontak produksi yang mereka miliki tidak pernah aktif. Puncaknya, ketika mereka akhirnya menemukan "panggung" yang dimaksud, di sana justru sedang berlangsung presentasi PowerPoint tentang pengembangan properti. Kurator panggung tersebut bahkan mengaku tidak pernah memesan mereka dan mengatakan bahwa line-up sudah ditetapkan berbulan-bulan sebelumnya.
Setelah menunggu berjam-jam tanpa kejelasan, mereka memutuskan untuk kembali ke mobil, mengganti popok bayi di kursi belakang, dan menempuh perjalanan dua jam pulang. "Akhir pekan ini seperti berada di bandara, melewati pemeriksaan keamanan, dan menunggu tiga jam untuk penerbangan yang tidak pernah ada," tulis mereka. Mereka menambahkan, "Ini contoh nyata bagaimana industri musik memperlakukan artis."
Menanggapi protes tersebut, pendiri Valley Fest, Luke Hasell, menyampaikan permintaan maaf dan menyebut adanya "miskomunikasi" dalam koordinasi. Ia menjelaskan bahwa panggung yang seharusnya dipakai Wings of Desire digabung dengan venue lain, dan para artis yang terdampak seharusnya dipindahkan ke lokasi berbeda. "Kami akan menghubungi manajemen band untuk meminta maaf dan memastikan hal ini tidak terulang," ujarnya. Namun, Wings of Desire menolak mentah-mentah penjelasan itu. "Kami tidak mendengar apa pun dari mereka dan tidak mendapat kompensasi. Kami tidak suka dianggap gaslighting dengan alasan miskomunikasi. Kami punya semua bukti," tegas mereka.
Kisah ini menyoroti praktik buruk dalam rantai pasok industri musik, di mana artis sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan. Di Indonesia, kasus serupa juga kerap terjadi, terutama di festival-festival musik lokal yang sedang menjamur. Banyak musisi indie yang mengeluhkan pembayaran yang tidak sesuai, jadwal yang berubah mendadak, atau bahkan panggung yang tidak siap. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini bukan hanya milik Inggris, tetapi juga relevan bagi para musisi Tanah Air yang kerap berhadapan dengan promotor yang kurang profesional.
Ke depan, kasus ini bisa menjadi momentum bagi industri musik untuk mengevaluasi standar kontrak dan komunikasi antara penyelenggara dan artis. Apakah akan ada regulasi yang lebih ketat untuk melindungi hak-hak musisi, atau justru para artis harus lebih berhati-hati dalam memilih festival? Satu hal yang pasti, pengalaman Wings of Desire menjadi pengingat bahwa di balik kemeriahan festival, ada banyak pihak yang bekerja keras dan berhak diperlakukan dengan layak.



