Harga COE Mobil Kecil di Singapura Turun, Kuota Naik Tipis: Sinyal Pasar Otomotif Mulai Melunak?
Baca dalam 60 detik
- COE Kategori A di Singapura turun 1,7% menjadi S$123.890 pada lelang 5 Agustus, sementara kuota tiga bulan ke depan naik tipis 0,2%.
- Lonjakan kuota Kategori B sebesar 6,2% menjadi pendorong utama penambahan pasokan, meski kuota Kategori A justru menyusut 4%.
- Wacana penggabungan Kategori A dan B mengemuka sebagai respons atas menyempitnya selisih harga antara mobil kecil dan besar.

Lelang Sertifikat Hak Kepemilikan Kendaraan (COE) di Singapura pada Rabu (5/8) mencatat hasil beragam, dengan harga untuk mobil kecil mengalami penurunan signifikan. COE Kategori A, yang mencakup kendaraan berkapasitas mesin 1.600cc ke bawah dengan tenaga tidak melebihi 130bhp, ditutup di level S$123.890 (sekitar US$96.600). Angka ini merosot 1,7% dibandingkan lelang sebelumnya yang menyentuh S$126.000, menandai penurunan lebih dari S$2.000 dalam sekali lelang.
Penurunan ini terjadi di tengah perubahan kuota yang mulai berlaku untuk periode Agustus hingga Oktober. Otoritas Transportasi Darat (LTA) Singapura menetapkan total kuota 19.085 COE, naik tipis 0,2% dari kuartal sebelumnya yang berjumlah 19.052. Namun, di balik kenaikan tipis tersebut, terdapat pergeseran struktural: kuota Kategori B justru melonjak 6,2% menjadi 5.527, sementara kuota Kategori A menyusut 4% menjadi 7.134. Artinya, pasokan untuk mobil kecil justru berkurang, namun harganya masih bisa turun—sebuah sinyal bahwa permintaan di segmen ini mungkin sedang melunak.
Di sisi lain, COE untuk mobil besar dan bertenaga tinggi (Kategori B) hanya naik tipis S$20 menjadi S$129.910, sementara COE kategori terbuka yang biasa digunakan untuk mobil mewah naik 0,8% ke S$131.000. Adapun COE untuk kendaraan niaga turun 2,5% menjadi S$91.545, dan sepeda motor naik 3% ke S$10.503. Total tawaran yang masuk mencapai 4.337, dengan kuota yang tersedia hanya 3.242—menunjukkan tingkat persaingan yang masih ketat, terutama di kategori tertentu.
Fenomena menyempitnya selisih harga antara Kategori A dan B menjadi sorotan. Para pengamat menilai bahwa produsen kendaraan kini semakin lihai menyesuaikan spesifikasi mesin agar mobil-mobil berkelas menengah bisa masuk ke Kategori A yang lebih murah. Akibatnya, kriteria kapasitas mesin dan tenaga kuda dinilai semakin tidak relevan untuk membedakan mobil massal dari mobil premium. LTA sendiri telah mengakui bahwa dalam diskusi kelompok fokus yang digelar bulan lalu, banyak pihak mengusulkan penggabungan Kategori A dan B menjadi satu kategori tunggal. Usulan ini pertama kali dilontarkan oleh Edward Chia, wakil ketua Komite Pemerintah Parlemen untuk Transportasi, bersama anggota parlemen Ang Wei Neng.
Bagi Indonesia, dinamika COE Singapura kerap menjadi indikator awal tren otomotif regional. Meski sistem kuota di Singapura sangat berbeda dengan pasar Indonesia yang berbasis pajak progresif, pergeseran preferensi konsumen terhadap kendaraan yang lebih efisien dan ramah lingkungan di negara tetangga bisa menjadi cermin bagi pasar domestik. Produsen otomotif yang beroperasi di kedua negara, seperti Toyota, Honda, dan Hyundai, mungkin akan semakin agresif meluncurkan varian dengan spesifikasi yang disesuaikan untuk memanfaatkan celah regulasi—sebuah praktik yang juga lazim di Indonesia untuk menekan pajak mewah.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah LTA benar-benar akan merealisasikan penggabungan Kategori A dan B. Jika itu terjadi, struktur pasar mobil di Singapura akan berubah drastis, dan dampaknya bisa menjalar ke strategi pemasaran produsen di Asia Tenggara. Sementara itu, dengan kuota yang hanya naik tipis, tekanan harga COE diprediksi masih akan berlanjut, terutama jika permintaan kembali menguat menjelang akhir tahun. Akankah penurunan harga kali ini menjadi awal tren, atau hanya koreksi sesaat?



