Polri Dorong Personel Jadi Inovator: Pangkat Bukan Penghalang Riset
Baca dalam 60 detik
- Wakapolri menegaskan setiap anggota kepolisian memiliki ruang setara untuk belajar dan berinovasi, tanpa dibatasi pangkat.
- Bripda Muhammad Putra Aulia menjadi contoh nyata inovasi di bidang ketahanan pangan melalui pupuk ramah lingkungan dan disinfektan.
- Polri memperkuat kolaborasi dengan akademisi melalui 79 Pusat Studi Kepolisian untuk membangun budaya riset berbasis bukti.

Wakil Kepala Kepolisian RI, Komjen Pol. Dedi Prasetyo, menegaskan bahwa pangkat bukanlah penghalang bagi setiap personel untuk terus mengembangkan diri dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Rabu (12/2), menegaskan komitmen institusi untuk membangun budaya organisasi yang berbasis ilmu pengetahuan.
Menurut Dedi, setiap anggota Polri memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meneliti, dan berinovasi. Ia mencontohkan Bripda Muhammad Putra Aulia, seorang personel yang menggabungkan kompetensi akademik di bidang peternakan dengan pengalaman profesional di industri. Sebelum bergabung melalui jalur Bintara Kompetensi Khusus, Putra pernah magang di Balai Benih Inseminasi Buatan, mendalami teknologi reproduksi ternak dan seleksi bibit unggul.
Setelah bertugas di Polda Riau, Putra mengembangkan Fertiplus Harmoni Hijau, pupuk ramah lingkungan yang telah memproduksi lebih dari 5,2 ton dan didistribusikan ke seluruh jajaran Polres dan Polsek di Riau. Inovasi ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional. Selain itu, ia juga menciptakan Densifur, disinfektan sulfur multifungsi untuk sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Karya-karyanya menjadi implementasi nyata dari konsep Green Innovation dalam paradigma Green Policing yang diinisiasi Kapolda Riau bersama Universitas Riau.
Dedi menilai inovasi semacam ini adalah wajah Polri yang ingin dibangun: anggota yang tidak berhenti belajar dan mampu mengimplementasikan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. "Kompetensi yang dimiliki setiap personel harus menjadi kekuatan institusi dalam mendukung program-program nasional, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan hidup, kesehatan, teknologi, hingga pelayanan publik," ujarnya dalam keterangan resmi.
Untuk memperkuat budaya inovasi, Polri terus membangun jejaring dengan dunia akademik melalui Pusat Studi Kepolisian STIK-PTIK Lemdiklat Polri. Hingga saat ini, 79 pusat studi telah dibentuk, dengan 40 di antaranya sudah beroperasi. Wakapolri menyebut jejaring ini sebagai ruang kolaborasi bagi personel, akademisi, peneliti, mahasiswa, dan pemerintah daerah untuk mengembangkan Police Science berbasis riset dan evidence-based policing.
Langkah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia akan aparat yang tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga mampu menjadi mitra strategis dalam pembangunan. Di tengah tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis pangan, inovasi dari institusi kepolisian dapat menjadi kontribusi signifikan bagi ketahanan nasional.
Dedi menegaskan bahwa siapa pun anggotanya, apa pun pangkatnya, jika memiliki gagasan dan riset yang bermanfaat, harus diberi ruang untuk berkembang. "Polri harus menjadi rumah bagi inovasi sekaligus mitra strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi bagi bangsa," katanya.
Ke depan, pertanyaannya adalah seberapa jauh budaya inovasi ini dapat dipertahankan dan diperluas ke seluruh jajaran. Apakah akan lahir lebih banyak inovator seperti Bripda Putra yang mampu menjawab persoalan bangsa? Hanya waktu yang akan membuktikan, tetapi arah yang dicanangkan Wakapolri memberikan sinyal positif bagi transformasi Polri menuju institusi yang lebih adaptif dan berbasis pengetahuan.



