Karhutla Ketapang Tewaskan Satu Warga: Krisis Asap dan Keterbatasan Air Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga dilaporkan tewas akibat terjebak kepulan asap saat kebakaran hutan dan lahan melanda Ketapang, Kalimantan Barat.
- BPBD Ketapang mengerahkan helikopter water bombing untuk menjangkau titik api di kawasan sulit, sementara luas lahan terbakar di Desa Pelang diperkirakan melebihi 40 hektare.
- Keterbatasan sumber air menjadi kendala utama pemadaman darat, mendorong permintaan penambahan armada udara dari BNPB untuk mempercepat respons.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, menelan korban jiwa. Seorang warga ditemukan tewas dalam perjalanan pulang, diduga akibat menghirup asap tebal hingga kehilangan kesadaran dan terjebak api di lokasi kejadian. Insiden ini menjadi alarm keras bagi aparat dan masyarakat akan bahaya karhutla yang tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam nyawa.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengungkapkan bahwa korban diduga menerobos kepulan asap pekat saat hendak pulang. "Kemungkinan karena kekurangan oksigen, korban pingsan, kemudian di sisi kanan dan kiri jalan terdapat api sehingga korban meninggal dalam keadaan terbakar," jelasnya di Ketapang, Rabu (tanggal). Selain korban jiwa, seorang warga lanjut usia juga dilaporkan mengalami luka bakar dan telah dilarikan ke Rumah Sakit dr. Agoesdjam Ketapang untuk perawatan intensif.
Kondisi karhutla di Ketapang masih jauh dari kata terkendali. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus berjibaku memadamkan api sejak dini hari. Namun, keterbatasan sumber air di lapangan menjadi kendala klasik yang menghambat efektivitas pemadaman darat. "Kendala utama di lapangan adalah sumber air yang sangat terbatas. Karena itu, operasi water bombing sangat dibutuhkan," ujar Yunifar.
Helikopter water bombing pun mulai dikerahkan untuk menjangkau titik-titik api di kawasan prioritas, seperti Desa Pelang dan Bukit Gunung Skuri di Kecamatan Sungai Laur. Di Desa Pelang saja, luas lahan yang terbakar diperkirakan telah menembus lebih dari 40 hektare. Titik api dilaporkan muncul di hampir seluruh kecamatan di Ketapang, menjadikan situasi ini sebagai darurat yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Krisis karhutla di Kalimantan Barat, khususnya Ketapang, bukanlah fenomena baru. Setiap musim kemarau, wilayah ini kerap dilanda kebakaran akibat praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokalโasap tebal yang dihasilkan dapat menyebar hingga ke negara tetangga, memicu konflik diplomatik dan kerugian ekonomi yang besar. Bagi Indonesia, karhutla adalah isu strategis yang menyangkut citra negara di mata dunia, terutama dalam komitmennya terhadap pengurangan emisi karbon.
Yunifar berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menempatkan helikopter patroli dan water bombing di Bandara Rahadi Oesman Ketapang. Langkah ini dinilai krusial untuk mempercepat respons pemadaman, mengingat jarak tempuh dari Pontianak atau kota lain memakan waktu yang berharga. "Dengan adanya armada udara yang ditempatkan di Ketapang, kami bisa memadamkan api lebih cepat sebelum meluas," tambahnya.
Di tengah upaya pemadaman, masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan jika menemukan titik api. Kesadaran kolektif menjadi kunci utama untuk mencegah bencana berulang. Namun, pertanyaan yang menggantung: akankah pemerintah daerah dan pusat mampu berkoordinasi lebih efektif untuk mengatasi akar masalah karhutla, atau akankah setiap musim kemarau selalu diwarnai duka dan kerugian yang sama?



