Intervensi Yen Mulai Kehilangan Pamor, Dolar Tertekan di Tengah Optimisme Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Yen menguat tipis ke 157,6 per dolar AS setelah intervensi gabungan AS-Jepang, namun pelaku pasar meragukan efek jangka panjangnya.
- Dolar AS tertekan ke level terendah enam pekan, sementara imbal hasil Treasury turun seiring meredanya konflik Iran dan ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
- Fokus pasar beralih ke data tenaga kerja AS dan pertemuan bank sentral September, dengan peluang kenaikan suku bunga The Fed hanya 56,9%.

Pekan ini, pasar valuta asing global memasuki fase konsolidasi setelah serangkaian intervensi agresif yang dilakukan Bank of Japan (BOJ) bersama Washington berhasil meredam laju depresiasi yen. Namun, optimisme itu tampak rapuh; mata uang Jepang masih jauh dari level yang dianggap sehat, sementara dolar AS terpuruk ke titik terendah dalam enam pekan terakhir seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada Rabu (5/8) waktu Hong Kong, yen diperdagangkan di kisaran 157,61 per dolar AS, sedikit menguat dari posisi sebelumnya. Angka ini masih jauh dari level terendah 40 tahun yang sempat menyentuh 164 per dolar. Dukungan verbal dari Menteri Keuangan AS Scott Bessent yang menyatakan akan melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk membantu Jepang, ditambah intervensi langsung di pasar, memang sempat membuat para spekulan berhati-hati. Namun, pergerakan pasar yang cenderung datar mengindikasikan keraguan besar di kalangan investor.
Vincent Chung, co-portfolio manager untuk strategi obligasi pendapatan terdiversifikasi di T. Rowe Price, menilai bahwa efek intervensi semacam ini biasanya hanya bersifat sementara. "Konsensus pasar saat ini adalah intervensi hanya akan memperlambat laju depresiasi yen, bukan membalikkan tren secara permanen," ujarnya. Pandangan senada disampaikan Mark Dowding, chief investment officer untuk tim pendapatan tetap RBC BlueBay, yang memperkirakan yen akan bergerak dalam rentang 155โ160 dalam waktu dekat, sebelum arah kebijakan The Fed dan BOJ menjadi lebih jelas pada September mendatang.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang terhadap enam mata uang utama lainnya, nyaris stagnan di level 99,85 setelah jatuh ke titik terendah enam pekan pada Senin. Euro dan pound sterling masing-masing bertahan di $1,1533 dan $1,3453. Sementara dolar Selandia Baru melemah 0,4 persen setelah tingkat pengangguran Negeri Kiwi melonjak ke level tertinggi dalam satu dekade, yaitu 5,6 persen pada kuartal kedua.
Katalis utama pelemahan dolar adalah meredanya konflik Iran. Presiden AS Donald Trump mengklaim telah melakukan diskusi yang sangat baik dengan Teheran, setelah Qatar melaporkan kemajuan mediasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lima bulan. Hal ini mendorong harga minyak mentah Brent turun 0,5 persen ke level terendah tiga pekan, sekaligus mengurangi premi risiko geopolitik. Imbal hasil Treasury AS dua tahun juga merosot mendekati level terendah dua pekan, seiring pelaku pasar mengkalkulasi ulang probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Meski begitu, tidak semua pejabat Federal Reserve sejalan. Presiden Fed Kansas City, Jeff Schmid, menegaskan bahwa masih diperlukan pengetatan kebijakan moneter untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen. Pernyataan ini muncul di tengah data pasar tenaga kerja yang akan menjadi sorotan utama pada Jumat pekan ini, ketika laporan non-farm payrolls dirilis. Berdasarkan alat ukur CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September telah turun menjadi 56,9 persen dari 67,2 persen sehari sebelumnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini membawa angin segar sekaligus tantangan. Pelemahan dolar AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah yang cenderung menguat, memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas moneter tanpa harus intervensi berlebihan. Namun, ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan BOJ tetap menjadi risiko utama bagi arus modal asing ke pasar obligasi dan saham domestik. Investor perlu mencermati data tenaga kerja AS sebagai sinyal awal apakah The Fed akan benar-benar melonggarkan kebijakannya, yang bisa menjadi katalis positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ke depan, pertemuan bank sentral pada September akan menjadi penentu arah pasar. Apakah intervensi Jepang hanya sekadar menunda kejatuhan yen, atau justru menjadi fondasi bagi normalisasi kebijakan BOJ yang lebih agresif? Sementara itu, data non-farm payrolls Jumat ini akan memberikan petunjuk awal tentang kesehatan ekonomi AS dan seberapa cepat The Fed akan bergerak. Pasar sepertinya akan terus bergerak volatil, dan investor disarankan untuk tetap waspada terhadap perubahan sentimen global yang cepat.



