El Nino Godzilla Memicu Karhutla dan Krisis Air di Jawa: Ancaman Ganda bagi Warga dan Ekonomi
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di TNBTS dan TN Baluran memaksa penutupan akses wisata serta mengancam habitat satwa langka.
- BNPB mencatat ratusan kejadian karhutla di Jawa dan luar Jawa sepanjang Mei–Agustus 2026, dengan puncak risiko diprediksi September.
- BMKG mengingatkan El Nino super kuat hingga 2027, mendorong perlunya mitigasi terpadu untuk sektor pangan, energi, dan kesehatan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan konservasi di Jawa, memaksa Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menutup akses wisata ke Gunung Bromo sejak Senin (3/8/26) pukul 22.00 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Langkah ini diambil setelah api melahap Blok Bantengan, area yang menjadi gerbang menuju padang savana ikonik tersebut.
Penutupan sementara ini berdampak langsung pada pintu masuk Jemplang, Coban Trisula (Malang), dan Senduro (Lumajang), sementara pengunjung dari Cemoro Lawang (Probolinggo) dan Wonokitri (Pasuruan) hanya diizinkan hingga area Lautan Pasir. Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, menegaskan bahwa Padang Sabana tidak boleh dikunjungi demi keselamatan dan kelancaran pemadaman. Belum diketahui pasti luas lahan yang terbakar, namun tim fokus pada upaya pemadaman.
Di sisi lain, Taman Nasional Baluran, Situbondo, yang dikenal dengan ekosistem sabana dan hutan jati kering, mencatat akumulasi kebakaran seluas 920,06 hektar sejak Mei hingga Agustus 2026. Juru bicara TN Baluran, Joko Mulyo Ichtiarso, menduga pemicunya adalah aktivitas masyarakat seperti pencari jamur, kayu bakar, hingga madu hutan yang kerap meninggalkan api menyala. Modus lain termasuk pembakaran daun untuk abu gadung dan pembakaran pohon untuk memudahkan pengambilan madu, yang kemudian merambat luas. Ia juga menyebut praktik ini kerap dimanfaatkan pembalak liar untuk mengalihkan perhatian petugas.
Dampaknya tidak hanya pada lahan, tetapi juga satwa. Banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), rusa timor (Cervus timorensis), serta berbagai reptil dan burung kehilangan habitat dan terpaksa bergeser mencari pakan. Proses pemadaman pun terkendala jarak sumber air; tim menggunakan jet shooter, pelepah pohon, hingga ranting untuk memadamkan api di medan sulit.
BNPB melaporkan karhutla juga melanda sejumlah daerah lain, seperti Blitar, Probolinggo, Ponorogo, Pacitan, Situbondo, Sragen, Wonogiri, Klaten, hingga Nagekeo (NTT) dan Banjarbaru (Kalsel). Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, mengaitkan meningkatnya kejadian dengan fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi berlangsung hingga awal 2027. Ia mengimbau pemerintah daerah memperkuat edukasi dan kesiapsiagaan, karena pencegahan dinilai lebih efektif daripada pemadaman.
Di Kabupaten Malang, krisis air mulai terasa. Dua desa, Sumberagung dan Karangkates, melaporkan sumber mata air mengering; warga Sumberagung harus berjalan 1,5 kilometer untuk mendapatkan air bersih. Sadono Irawan, Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Malang, menyebut 20 desa di delapan kecamatan berpotensi kekeringan, dan pihaknya tengah mengajukan program sumur bor serta pipanisasi ke BNPB. Upaya jangka pendek berupa dropping air bersih terus dilakukan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto (28/7/26) memperingatkan bahwa El Nino tahun ini bisa mencapai level sangat kuat, membuat musim kemarau lebih kering dan panjang. BMKG memproyeksikan puncak kemarau terjadi Agustus hingga September, dengan risiko karhutla tinggi meluas hingga Sumatera dan Kalimantan. Lima provinsi prioritas pemantauan adalah Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Untuk mengantisipasi dampaknya, BMKG mendorong Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga volume air waduk strategis seperti Danau Toba, serta pembasahan lahan gambut dan penguatan patroli hotspot. Rekomendasi juga menyentuh sektor kesehatan (pemantauan kualitas udara untuk mencegah ISPA), pertanian (percepatan tanam dan varietas genjah), ekonomi (antisipasi inflasi pangan), dan energi (pengelolaan waduk berbasis prediksi iklim).
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah koordinasi lintas sektor dan teknologi modifikasi cuaca cukup untuk mencegah bencana ekologis yang lebih luas, atau justru diperlukan perubahan fundamental dalam pengelolaan lahan dan kesadaran masyarakat? Dengan El Nino yang diprediksi berlanjut hingga 2027, Jawa dan Indonesia secara keseluruhan harus bersiap menghadapi musim kemarau yang tidak biasa ini.



