Disney Lepas A+E Global Media ke Hearst Senilai US$1,2 Miliar: Strategi Fokus ke Streaming
Baca dalam 60 detik
- Kesepakatan tunai senilai US$1,2 miliar membuat Hearst menguasai penuh A+E Global Media, mengakhiri kemitraan 50-50 dengan Disney.
- Langkah ini menegaskan prioritas Disney pada layanan streaming dan ESPN di tengah penurunan pelanggan TV kabel.
- A+E, dengan jangkauan 414 juta rumah tangga global, akan beroperasi di bawah naungan penuh Hearst mulai September.

Hearst, konglomerat media swasta asal Amerika Serikat, resmi mengakuisisi 50 persen saham Disney di A+E Global Media dengan nilai sekitar US$1,2 miliar tunai. Transaksi ini mengakhiri kemitraan lama yang telah berlangsung puluhan tahun dan menjadikan A+E sebagai entitas yang sepenuhnya dimiliki Hearst.
Keputusan Disney untuk melepas kepemilikannya di A+E bukanlah hal yang mengejutkan. Perusahaan yang bermarkas di Burbank itu tengah memfokuskan diri pada bisnis streaming dan ESPN, sambil terus mengevaluasi peran aset televisi linier tradisionalnya di tengah menurunnya jumlah pelanggan kabel. Langkah ini sejalan dengan strategi Disney untuk merampingkan portofolio bisnisnya dan menggenjot pertumbuhan di sektor digital.
Menurut pernyataan resmi Hearst, transaksi tersebut ditargetkan rampung pada September mendatang. Setelah itu, A+E akan menjadi bagian dari grup hiburan Hearst. A+E sendiri mengelola sejumlah merek televisi terkenal seperti A&E, Lifetime, The History Channel, LMN, FYI, dan Vice TV. Jangkauannya sangat luas, menjangkau lebih dari 414 juta rumah tangga di 200 wilayah dengan 40 bahasa berbeda.
Paul Buccieri, Presiden dan Chairman A+E, menyatakan bahwa perusahaan akan terus memperluas bisnis kontennya di berbagai platform dan pasar internasional pasca kesepakatan ini. Sementara itu, CEO Hearst, Steven Swartz, menegaskan dukungannya terhadap kepemimpinan A+E. "Kami berharap dapat mendukung Paul Buccieri dan tim kepemimpinan A+E Global Media saat mereka terus menciptakan program yang wajib ditonton dan berinovasi di sekitar merek History, Lifetime, dan A&E yang hebat," ujarnya.
Hearst, yang juga memiliki 18 persen saham di ESPN, memiliki portofolio bisnis yang beragam, mencakup televisi, surat kabar, majalah, layanan keuangan, dan informasi kesehatan. Akuisisi ini semakin memperkuat posisi Hearst di industri media, terutama di segmen konten dan distribusi global.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Meskipun A+E tidak memiliki operasi langsung di dalam negeri, konten dari History Channel dan Lifetime telah lama dinikmati oleh penonton Indonesia melalui berbagai platform berlangganan. Perubahan kepemilikan ini berpotensi memengaruhi strategi distribusi konten di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Hearst yang kini memiliki kendali penuh dapat lebih leluasa menjajaki kerja sama dengan platform lokal atau bahkan meluncurkan layanan langsung ke konsumen.
Di sisi lain, langkah Disney untuk keluar dari A+E menegaskan tren global pergeseran dari televisi linier ke streaming. Di Indonesia, fenomena serupa juga terjadi, dengan semakin banyaknya platform over-the-top (OTT) yang bermunculan dan persaingan yang semakin ketat. Keputusan Disney ini bisa menjadi sinyal bagi pemain media lokal untuk lebih agresif dalam mengembangkan konten digital dan menjalin kemitraan strategis.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana Hearst akan mengelola A+E di tengah lanskap media yang terus berubah. Akankah mereka mempertahankan model bisnis tradisional atau justru melakukan transformasi besar-besaran? Yang jelas, akuisisi ini memberikan Hearst kendali penuh atas portofolio merek yang kuat, dan kemampuan untuk berinovasi tanpa harus berkompromi dengan mitra. Bagi industri media global, langkah ini menjadi bukti bahwa konsolidasi masih menjadi strategi utama untuk bertahan di era digital.



