Gelombang Panas Ekstrem Landa Korea Selatan: 19 Tewas, 2.221 Orang Alami Gangguan Kesehatan
Baca dalam 60 detik
- Korea Selatan mencatat 19 kematian akibat panas ekstrem sejak pertengahan Mei, dengan total 2.221 kasus gangguan kesehatan terkait suhu tinggi.
- Suhu mencapai rekor nasional 42,5 derajat Celsius di Yangsan, memicu peringatan panas level tertinggi di Seoul dan sekitarnya.
- Pemerintah di bawah Presiden Lee Jae-myung meningkatkan dukungan bagi warga rentan, sementara para ahli memperingatkan gelombang panas semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan sepanjang musim panas ini telah menewaskan 19 orang dan menyebabkan lebih dari 2.200 kasus gangguan kesehatan terkait suhu tinggi, menurut Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) pada Selasa (4/8). Angka ini menjadi sorotan tajam di tengah rekor suhu nasional yang mencapai 42,5 derajat Celsius di kota Yangsan, bagian tenggara negeri ginseng itu.
Data KDCA menunjukkan bahwa sejak 15 Mei hingga 3 Agustus, total 2.221 orang menderita penyakit akibat panas, seperti heat stroke, kelelahan panas, dan kram panas. Dari jumlah tersebut, 19 orang meninggal dunia. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengindikasikan bahwa intensitas dan durasi gelombang panas tahun ini jauh lebih parah. Para ahli meteorologi menilai bahwa kombinasi tekanan atmosfer tinggi yang berkepanjangan dan efek perubahan iklim global menjadi pemicu utama.
Seoul, ibu kota Korea Selatan, pada Selasa masih berada dalam status peringatan panas level tertinggi, yang dikeluarkan ketika indeks panas diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius atau suhu udara naik hingga 39 derajat Celsius ke atas. Badan meteorologi setempat mengeluarkan pernyataan yang menggarisbawahi bahwa "panas ekstrem yang mengancam jiwa" diperkirakan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini memaksa warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, sementara pemerintah membuka pusat pendingin darurat di berbagai distrik.
Presiden Lee Jae-myung telah memerintahkan otoritas terkait untuk meningkatkan dukungan bagi kelompok rentan, termasuk lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan. Langkah ini mencakup perpanjangan jam operasional pusat pendingin, distribusi air minum, dan pemantauan kesehatan secara berkala. Di sisi lain, fenomena ini juga memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi, terutama pada sektor pertanian dan pariwisata, karena produktivitas menurun dan biaya kesehatan meningkat.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada negara subtropis, tetapi juga berpotensi meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem di kawasan tropis. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan bahwa suhu permukaan laut yang hangat dapat memicu gelombang panas di beberapa wilayah Indonesia, meskipun dengan intensitas yang lebih rendah. Namun, adaptasi infrastruktur dan sistem peringatan dini menjadi krusial untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat.
Para peneliti iklim memperkirakan bahwa gelombang panas seperti yang terjadi di Korea Selatan akan semakin sering dan intensif di masa depan. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca yang signifikan, kejadian suhu ekstrem di Asia Timur dapat meningkat hingga tiga kali lipat pada pertengahan abad ini. Hal ini menuntut respons kolektif dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk memperkuat ketahanan terhadap panas.
Pertanyaannya, apakah negara-negara seperti Indonesia sudah siap menghadapi skenario terburuk? Dengan populasi besar dan infrastruktur yang belum merata, kesiapan menghadapi gelombang panas ekstrem menjadi ujian nyata bagi kebijakan adaptasi iklim di kawasan ini.



