Match Group Proyeksi Pendapatan Kuartal III di Bawah Ekspektasi, Saham Tertekan 9%
Baca dalam 60 detik
- Match Group memperkirakan pendapatan kuartal III lebih rendah dari perkiraan analis, memicu penurunan saham 9% dalam perdagangan lanjutan.
- Penurunan pendapatan terutama disebabkan oleh merek Everyone Everywhere, termasuk aplikasi kencan Azar dan Pairs yang berbasis di Asia, yang terdampak desain ulang aplikasi.
- Meskipun Tinder menunjukkan perbaikan penurunan pengguna harian dan Hinge tumbuh 13%, prospek jangka pendek tetap bergantung pada eksekusi strategi inovasi dan monetisasi.

Match Group, induk perusahaan aplikasi kencan Tinder dan Hinge, memproyeksikan pendapatan kuartal ketiga di bawah perkiraan analis Wall Street. Proyeksi ini memicu penurunan harga saham perusahaan sebesar 9% dalam perdagangan setelah jam bursa, Selasa (4/8). Meski ada tanda-tanda perbaikan pada aplikasi Tinder yang selama ini tertekan, serta pertumbuhan yang solid di Hinge, sentimen pasar tetap negatif karena lemahnya panduan pendapatan.
Dalam wawancara dengan Reuters, Chief Financial Officer Match Group, Steve Bailey, mengungkapkan bahwa proyeksi pendapatan yang lemah terutama berasal dari portofolio merek Everyone Everywhere, yang mencakup Pairs dan Azar yang berbasis di Asia. Perusahaan memperkirakan pendapatan dari lini bisnis ini akan turun hingga belasan persen secara tahunan, lebih dalam dari perkiraan sebelumnya yang hanya penurunan satu digit. Penyebab utamanya adalah desain ulang aplikasi Azar yang berdampak pada keterlibatan pengguna.
Match Group memperkirakan pendapatan kuartal ketiga berada di kisaran US$885 juta hingga US$895 juta. Titik tengah dari kisaran tersebut, sekitar US$890 juta, masih di bawah konsensus analis yang dihimpun LSEG sebesar US$891,5 juta. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan monetisasi masih membayangi perusahaan di tengah persaingan ketat industri aplikasi kencan global.
Menurut Chandler Willison, analis di M Science, kemampuan Match Group untuk memenuhi target pendapatan sangat bergantung pada eksekusi strategi di Tinder dan Hinge. "Desain ulang Tinder dan tingkat keterlibatan pengguna akan menentukan hasilnya, begitu pula dengan rencana baru Hinge yang mungkin berhasil atau tidak," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi ketidakpastian yang masih menyelimuti prospek jangka pendek perusahaan.
Di tengah tekanan pendapatan, Match Group terus berinvestasi pada fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk menyesuaikan diri dengan perubahan preferensi pengguna. Tinder, misalnya, memanfaatkan AI untuk mempercepat pengembangan produk dan meluncurkan fitur sosial yang bertujuan memfasilitasi pertemuan langsung di dunia nyata, terutama bagi pengguna muda. Fitur Events yang diujicobakan di Los Angeles sejak Maret telah memfasilitasi lebih dari 60 pertemuan. Meski saat ini fokus pada pertumbuhan pengguna, Bailey memperkirakan fitur ini baru akan menjadi pendorong pendapatan pada 2027 dan seterusnya.
Data internal menunjukkan perbaikan bertahap pada Tinder. Penurunan pengguna aktif harian (DAU) menyempit menjadi 4% pada kuartal kedua, merupakan penurunan terkecil dalam sepuluh kuartal terakhir. Sementara itu, Hinge mencatat pertumbuhan pengguna aktif bulanan global sebesar 13%, didorong oleh ekspansi di pasar-pasar baru. Namun, secara keseluruhan, Match Group melaporkan pendapatan kuartal kedua sebesar US$853 juta, turun 1% secara tahunan dan sedikit di bawah estimasi US$856,8 juta. Jumlah pengguna berbayar juga menurun 6% menjadi 13,3 juta, meskipun pendapatan per pengguna naik 6% menjadi US$21,13.
Bagi pasar Indonesia, kabar ini relevan mengingat penetrasi aplikasi kencan yang semakin tinggi di Asia Tenggara. Match Group, melalui merek seperti Tinder dan Pairs, bersaing ketat dengan pemain lokal seperti Indonesia's own (jika ada) atau aplikasi lain yang menawarkan fitur serupa. Tren adopsi AI dalam matchmaking juga mulai diadopsi oleh aplikasi lokal, yang bisa menjadi pembeda di pasar yang kompetitif. Investor dan pengamat di Indonesia perlu mencermati bagaimana Match Group menyeimbangkan inovasi dengan monetisasi, terutama di tengah tekanan ekonomi global yang memengaruhi belanja konsumen.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Tinder dan Hinge mampu mengubah inovasi menjadi pendapatan yang berkelanjutan. Dengan target pendapatan dari fitur Events baru pada 2027, Match Group tampaknya bermain untuk jangka panjang. Namun, tekanan dari investor yang menginginkan hasil cepat bisa menjadi tantangan tersendiri. Apakah strategi ini akan berhasil, atau justru membuat Match Group kehilangan momentum di pasar yang bergerak cepat? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi sinyal perbaikan di Tinder dan pertumbuhan Hinge memberikan secercah harapan di tengah awan gelap proyeksi pendapatan.



