Jepang dan India Bangun 1.000 Pabrik Biogas untuk 2,5 Juta Kendaraan: Strategi Suzuki Menghadapi Dominasi EV
Baca dalam 60 detik
- Tokyo dan New Delhi menargetkan 1.000 pabrik biogas di India pada 2030 untuk menggerakkan 2,5 juta kendaraan, tujuh kali lipat kapasitas saat ini.
- Maruti Suzuki, anak usaha Jepang, mengalokasikan 5,61 miliar rupee untuk empat proyek awal, menggarisbawahi komitmen pada bahan bakar alternatif di tengah persaingan ketat.
- Keberhasilan inisiatif ini bergantung pada pengelolaan rantai pasok limbah pertanian yang terfragmentasi, sebuah tantangan yang juga relevan bagi pasar seperti Indonesia.

Tokyo dan New Delhi resmi meluncurkan program ambisius pada 1 Juli untuk membangun 1.000 pabrik biogas di India hingga 2030, sebuah langkah yang dirancang untuk menggerakkan 2,5 juta kendaraan bermesin CNG. Inisiatif ini muncul di tengah upaya Jepang memperkuat pengaruhnya di pasar otomotif India yang tumbuh pesat, sekaligus menjawab tekanan dekarbonisasi global.
Langkah ini bukan sekadar proyek lingkungan. Suzuki Motor, melalui anak usahanya Maruti Suzuki, telah menyetujui investasi tahap awal senilai 5,61 miliar rupee (sekitar Rp1,05 triliun) untuk empat pabrik biogas. Angka ini menjadi sinyal bahwa raksasa otomotif Jepang serius menjadikan biogas sebagai pilar strategi "multi-jalur" mereka, di tengah melonjaknya harga minyak akibat konflik Timur Tengah dan mahalnya biaya kendaraan listrik (EV).
Data industri menunjukkan daya tarik CNG di India. Penjualan ritel kendaraan CNG naik hampir 17 persen pada Juni dibandingkan tahun lalu, dan kini menguasai 24,3 persen pangsa pasar kendaraan penumpang—jauh melampaui EV yang baru mencapai 7,8 persen. Menurut analis Mobility Global, Puneet Gupta, sekitar separuh pasar mobil India berada di bawah harga 1,5 juta rupee, segmen yang sangat sensitif terhadap biaya operasional. "CNG menawarkan solusi nilai terbaik untuk konsumen yang mengutamakan efisiensi," ujarnya.
Namun, jalan menuju target 2030 tidak mulus. Analis memperingatkan bahwa rantai pasok bahan baku biogas—kotoran sapi, limbah pertanian, dan sisa makanan—sangat terfragmentasi di negara seluas India. Hemal N Thakkar dari Crisil Intelligence menegaskan, "Tanpa saluran pengelolaan bahan baku yang tepat, sulit untuk meningkatkan skala." Laporan Down To Earth bahkan menyebut beberapa pabrik komunitas beroperasi hanya 10-50 persen dari kapasitas karena kekurangan pasokan, membuat pendapatan tidak mampu menutup biaya operasional.
Bagi Indonesia, model biogas India menawarkan pelajaran berharga. Dengan sektor pertanian yang luas dan populasi ternak besar, Indonesia sebenarnya memiliki potensi serupa. Namun, seperti di India, tantangan terbesar adalah membangun sistem pengumpulan limbah yang efisien dan jaringan distribusi gas yang memadai. Analis Counterpoint Research, Abhilash Gupta, menilai bahwa model ini "belum siap ditiru" di negara lain sebelum terbukti berhasil di India. Ia menekankan tiga syarat utama: ketersediaan limbah murah, basis kendaraan CNG yang ada, dan dukungan pemerintah yang kuat.
Strategi Suzuki tidak berhenti pada produksi bahan bakar. Perusahaan juga membangun pabrik biogas untuk kebutuhan internal, seperti di Manesar dan Kharkhoda, yang akan memasok sekitar 20 persen kebutuhan gas pabrik. Model ini menciptakan nilai ganda: menjual kendaraan CNG, memproduksi bahan bakar sendiri, dan menghasilkan pupuk organik untuk petani sekitar. Suzuki bahkan berencana mereplikasi model ini di kawasan ASEAN, Afrika, dan Jepang, dengan India sebagai basis ekspansi.
Namun, skeptisisme tetap mengemuka. Abhilash Gupta mengingatkan bahwa "seribu pabrik adalah angka besar dibandingkan posisi India saat ini." Program biogas pemerintah India sejak 2018 hanya mencapai sebagian kecil dari target awal. Pertanyaannya kini: mampukah Jepang dan India mengatasi hambatan logistik dan ekonomi yang selama ini menghambat? Atau akankah inisiatif ini menjadi sekadar simbol ambisi tanpa realisasi nyata? Dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi ujian sesungguhnya.



