Inggris Suntik Dana Rekor £33 Juta untuk Atlet Musim Dingin Menuju Alpes 2030
Baca dalam 60 detik
- UK Sport mengucurkan paket pendanaan terbesar dalam sejarah olahraga musim dingin Inggris, mencapai £33 juta untuk siklus menuju Olimpiade Alpes 2030.
- Prestasi gemilang di Milano-Cortina 2026, termasuk tiga medali emas, menjadi pendorong utama peningkatan anggaran yang hampir dua kali lipat dari siklus sebelumnya.
- Dana sebesar £12,5 juta untuk olahraga salju sengaja tidak disalurkan lewat GB Snowsport menyusul tinjauan independen tata kelola, menandai perubahan strategi pembinaan atlet.

UK Sport, badan pendanaan olahraga Inggris, mengumumkan paket investasi senilai £33 juta (sekitar Rp670 miliar) untuk atlet Olimpiade dan Paralimpiade musim dingin dalam siklus menuju Alpes 2030. Angka ini menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah, naik signifikan dari £24,2 juta pada siklus sebelumnya, sebagai respons atas torehan emas terbanyak yang pernah diraih Inggris di ajang musim dingin.
Keberhasilan tiga medali emas pada Olimpiade Milano-Cortina 2026 menjadi titik balik. Sebelumnya, Inggris tidak pernah membawa pulang lebih dari satu emas dalam satu edisi Olimpiade musim dingin. Total lima medali yang diraih juga menyamai rekor nasional, ditambah catatan jumlah finis di posisi sepuluh besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Prestasi ini membuktikan bahwa pembinaan atlet musim dingin Inggris mulai menunjukkan hasil nyata.
Kate Baker, Direktur Kinerja dan SDM UK Sport, menegaskan bahwa Milano-Cortina telah membuktikan kapasitas olahraga musim dingin Inggris. "Penampilan luar biasa di berbagai cabang, raihan medali terbaik sepanjang sejarah, dan antusiasme publik menjadi modal berharga," ujarnya. Baker juga menyambut baik penyelenggaraan Olimpiade berikutnya yang kembali digelar di Eropa, memberi peluang emas bagi para atlet untuk bersaing di kandang sendiri.
Alokasi dana terbesar, £10 juta, diberikan untuk bobsleigh dan skeleton, dua cabang yang menjadi andalan Inggris. Sementara itu, curling menerima £6 juta. Khusus untuk olahraga salju, £12,5 juta disiapkan, namun dengan catatan penting: dana tersebut tidak akan disalurkan melalui GB Snowsport. Organisasi itu tengah menghadapi tinjauan independen terkait tata kelola, sehingga UK Sport memilih model distribusi baru yang lebih transparan dan akuntabel.
Keputusan untuk memisahkan aliran dana dari GB Snowsport menjadi sorotan. Dalam pernyataannya, UK Sport menyebut model penyaluran baru akan dikonfirmasi akhir tahun ini agar pendanaan dapat mengalir lancar menuju Alpes 2030. "Atlet olahraga salju harus tetap terlindungi dan terus mendapat manfaat dari dana publik," demikian bunyi pernyataan resmi. Langkah ini mengindikasikan adanya perombakan besar dalam manajemen olahraga salju Inggris, yang selama ini kerap dikritik karena kurangnya transparansi.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat bahwa investasi jangka panjang dan tata kelola yang bersih adalah kunci prestasi olahraga. Meski Indonesia tidak memiliki tradisi olahraga musim dingin, pelajaran tentang pentingnya pendanaan berkelanjutan dan evaluasi kelembagaan relevan untuk cabang olahraga lain, seperti sepak bola atau bulu tangkis. Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dapat mencontoh bagaimana UK Sport memisahkan dana atlet dari potensi konflik kepentingan organisasi.
Dengan Alpes 2030 yang akan digelar di Pegunungan Alpen, Inggris berada di posisi strategis. Pertanyaannya, apakah peningkatan dana ini akan berbanding lurus dengan prestasi di lapangan? Atau justru memicu persaingan internal antar cabang olahraga? Yang jelas, langkah berani UK Sport menunjukkan komitmen untuk tidak berpuas diri, sekaligus memberi sinyal bahwa pembinaan atlet harus terus dievaluasi dan disempurnakan.



