Malen: Scudetto Mimpi Besar, tapi Roma Lebih Butuh Konsistensi
Baca dalam 60 detik
- Penyerang anyar Roma, Donyell Malen, mengaku memimpikan Scudetto, namun menegaskan prioritas utama adalah konsistensi performa.
- Malen menilai kesuksesan Aston Villa di Europa League adalah bagian dari dirinya, meski sempat kecewa tak bertemu di final.
- Roma gagal memboyong Summerville yang memilih Al-Hilal, namun Malen menghormati keputusan rekannya itu.

Donyell Malen, penyerang anyar AS Roma, menegaskan bahwa memenangkan Scudetto adalah mimpi yang ingin ia wujudkan bersama Giallorossi. Namun, di balik ambisi itu, pemain asal Belanda tersebut lebih memilih untuk fokus pada peningkatan performa dari pekan ke pekan. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya bisa berkontribusi membawa Roma kembali ke Liga Champions setelah tujuh tahun absen.
Sejak bergabung dari Aston Villa pada Januari lalu, Malen langsung menjadi mesin gol Roma. Dalam 18 pertandingan kompetitif, ia mencetak 14 golโcatatan impresif yang mengingatkan publik pada masa kejayaan Edin Dzeko. Namun, Malen enggan berbicara banyak tentang gelar Capocannoniere. "Saya berharap bisa, tapi saya ingin fokus meningkatkan diri setiap pekan," ujarnya kepada Il Messaggero. "Yang terpenting adalah Roma lolos ke Liga Champions setelah tujuh tahun. Jika kami bisa mengulang pencapaian itu, itu akan luar biasa."
Kiprah Malen di Roma tidak lepas dari sentuhan pelatih Gian Piero Gasperini. Ia mengaku pelatihnya itu memberikan kepercayaan penuh dan instruksi yang jelas. "Dia tahu kualitas saya dan menempatkan saya dalam kondisi terbaik untuk menyelesaikan kerja keras tim," kata Malen. Kepercayaan itu tampaknya menjadi kunci adaptasi cepatnya di Serie A, yang menurutnya tidak kalah ketat dengan Premier League. "Lihat saja Inter yang dua kali mencapai final Liga Champions. Jaraknya tidak terlalu jauh," tegasnya.
Meski bersinar di Roma, Malen sempat merasakan kekecewaan saat mantan rekannya di Aston Villa meraih trofi Europa League. Namun, ia menegaskan tidak iri. "Saya hanya sedih karena kami tidak bertemu mereka di final, karena kami tersingkir oleh Bologna. Tapi saya senang untuk mereka. Keberhasilan itu juga sedikit milik saya, karena mereka mengirimkan medali juara," ungkapnya. Sikap dewasa ini menunjukkan mentalitas tim yang ia bawa ke ruang ganti Roma.
Di luar lapangan, Malen mengaku betah di Roma. "Kota ini luar biasa, iklimnya bagus, monumennya indah, dan orang-orangnya fantastis. Keluarga saya bahagia di sini, hubungan saya dengan penggemar sangat baik," tuturnya. Ia bahkan mengaku terinspirasi oleh perayaan Scudetto Roma tahun 2001 di Circo Massimo. "Mengulang pengalaman seperti itu akan menjadi mimpi," katanya. Namun, ia sadar bahwa jalan menuju Scudetto masih panjang, terutama dengan persaingan ketat dari Inter, Milan, dan Juventus.
Kegagalan Roma memboyong Crysencio Summerville menjadi catatan tersendiri. Pemain Belanda itu memilih tawaran finansial lebih besar dari Al-Hilal. Malen mengaku sempat mencoba membujuk rekannya itu. "Saya sudah bicara dengan Crys, sayangnya tidak berhasil. Saya tidak merasa berhak mengomentari pilihan teman. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik," ujarnya. Roma juga dikaitkan dengan pemain muda Feyenoord, Givairo Read. "Saya belum bicara dengannya, tapi saya kenal dia. Dia masih sangat muda dan sedang menunjukkan perkembangan. Dia tipe pemain yang cocok di sini," tambah Malen.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perjalanan Malen menjadi contoh bagaimana adaptasi cepat pemain asing di liga top Eropa. Keberaniannya mengambil peran penting di Roma, plus dukungan pelatih yang tepat, bisa menjadi pelajaran bagi pemain Indonesia yang ingin berkarier di Eropa. Selain itu, ketertarikan Roma pada pemain muda Belanda menunjukkan bahwa klub-klub Eropa terus memantau bakat-bakat baru, termasuk dari Asia Tenggara yang mulai dilirik.
Ke depan, tantangan terbesar Malen adalah menjaga konsistensi. Jika ia mampu mempertahankan performa seperti paruh musim lalu, bukan tidak mungkin ia menjadi kandidat kuat Capocannoniere musim depan. Namun, yang lebih penting bagi Roma adalah bagaimana tim mampu bersaing di Liga Champions dan kembali merebut Scudetto yang terakhir kali diraih pada 2001. Pertanyaannya, mampukah Malen menjadi pewaris tahta Dzeko di Roma?



