Bobby Nasution Minta Generasi Muda Sumut Hidupkan Semangat Juang '45: Bukan Sekadar Nostalgia, Melainkan Bekal Lawan Narkoba dan Tawuran
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menekankan pentingnya regenerasi nilai-nilai perjuangan 1945 melalui sinergi antar-generasi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
- Organisasi DHD 45 Sumut periode 2026-2031 dilantik dengan mandat strategis sebagai mitra pemerintah dalam menanamkan patriotisme dan nilai kebangsaan kepada pemuda.
- Tantangan kontemporer seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan kekerasan anak menjadi fokus utama yang harus dijawab dengan semangat juang, bukan sekadar retorika.

Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, melontarkan ajakan tegas kepada generasi muda untuk tidak melupakan api perjuangan 1945, menjadikannya sebagai fondasi dalam menghadapi gempuran tantangan zaman menuju target Indonesia Emas 2045. Pernyataan ini disampaikan di tengah pelantikan pengurus Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Jiwa Semangat 45 Provinsi Sumatera Utara untuk masa bakti 2026โ2031, Selasa (28/1) di Kantor Gubernur Sumut, Medan.
Bobby menilai pewarisan nilai-nilai kepahlawanan tidak bisa berjalan satu arah. Ia justru menekankan perlunya sinergi timbal balik antara generasi muda yang baru menapaki karier dengan para senior yang telah lebih dulu mengabdi. โKami yang muda-muda ini tentu butuh terus diingatkan, dan dibimbing oleh orang tua serta senior kami,โ ujarnya, mengakui bahwa proses regenerasi kepemimpinan membutuhkan bimbingan yang berkelanjutan.
Lebih jauh, mantan menantu Presiden Joko Widodo ini juga membuka ruang kritik. Ia meminta para sesepuh dan tokoh masyarakat untuk berani mengingatkan apabila langkah kepemimpinannya dinilai keliru dalam upaya memajukan pembangunan Sumatera Utara. Sikap ini menunjukkan bahwa semangat juang bukan hanya soal masa lalu, melainkan juga alat kontrol sosial untuk memastikan arah pembangunan tetap pada koridor yang benar.
Keberadaan DHD 45, menurut Bobby, memiliki peran strategis sebagai penjaga moral sekaligus mitra pemerintah dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan patriotisme kepada generasi penerus. Ia menggarisbawahi bahwa sejarah panjang perjuangan, mulai dari Sumpah Pemuda 1928 hingga Proklamasi Kemerdekaan 1945, adalah bukti nyata bahwa persatuan mampu mengatasi segala perbedaan. Semangat inilah yang kini harus diadaptasi untuk melawan persoalan kontemporer seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran, dan kekerasan terhadap anak.
Senada dengan itu, Ketua Dewan Paripurna Nasional Dewan Harian Nasional Angkatan 45, Jenderal TNI (Purn) Agustadi Sasongko Purnomo, menegaskan bahwa DHD 45 Sumut siap menjadi garda terdepan mendukung kebijakan pemerintah daerah. Menurutnya, pembudayaan jiwa dan semangat kejuangan '45 adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). โDHD 45 harus selalu bersinergi dengan pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi ini menjadi pemantik semangat dalam mendorong tercapainya cita-cita pembangunan di Sumatera Utara,โ tegasnya.
Ketua Umum DHD 45 Sumut yang baru dilantik, Mayjen TNI (Purn) Muhammad Hasyim, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Sumut dalam penyelenggaraan acara tersebut. Ia tidak tinggal diam dengan amanah yang diemban. Hasyim langsung mengajak para bupati dan wali kota di 33 kabupaten/kota se-Sumatera Utara untuk memfasilitasi pembentukan kepengurusan Dewan Harian Cabang (DHC) 45. Hingga saat ini, baru 20 daerah yang sudah memiliki kepengurusan, sehingga masih ada pekerjaan rumah besar untuk menjangkau wilayah lainnya.
Ajakan ini bukan tanpa alasan. Hasyim menitipkan pesan yang dalam kepada para pemimpin muda Sumatera Utara: โMari kita jaga Pancasila, UUD 1945, dan keutuhan NKRI di tengah keberagaman suku dan agama.โ Pernyataan ini relevan mengingat Sumatera Utara adalah salah satu provinsi dengan tingkat heterogenitas tinggi, baik dari sisi etnis maupun agama, yang kerap menjadi potensi konflik horizontal.
Bagi masyarakat Sumatera Utara, langkah ini memiliki arti penting. Di tengah derasnya arus globalisasi dan disrupsi digital, regenerasi nilai-nilai kebangsaan menjadi tameng untuk mencegah tergerusnya identitas lokal. Organisasi seperti DHD 45 diharapkan tidak hanya menjadi simbol seremoni, tetapi benar-benar berfungsi sebagai ruang kaderisasi kepemimpinan yang berkarakter. Pertanyaannya, apakah para pemuda hari ini akan menangkap semangat ini sebagai panggilan, atau sekadar melihatnya sebagai rutinitas tahunan?



