Serie A Terjepit Aturan Finansial: Jual Dulu Sebelum Beli, Juventus Jadi Pengecualian
Baca dalam 60 detik
- Klub-klub Serie A menghadapi kebuntuan transfer musim panas ini karena harus menjual pemain terlebih dahulu untuk memenuhi regulasi keuangan.
- Napoli dan Inter paling terdampak, sementara Juventus justru menjadi pembelanja terbesar di luar Inggris dengan total โฌ137,15 juta.
- Kesenjangan finansial dengan Premier League semakin melebar, memaksa klub Italia mengandalkan strategi jual-beli yang cermat.

Pasar transfer musim panas Serie A tahun ini berjalan pincang. Klub-klub Italia tidak bisa serta-merta membelanjakan uang untuk rekrutan anyar; mereka harus lebih dulu melepas pemain demi menyeimbangkan neraca keuangan. Kondisi ini menjadi konsekuensi logis dari regulasi UEFA Financial Fair Play yang kian ketat, sekaligus cermin kesenjangan ekonomi yang semakin lebar dengan Premier League.
Jika dibandingkan dengan liga Inggris, kekuatan finansial klub-klub Italia memang jauh tertinggal. Bahkan tim promosi di Premier League mampu menawar pemain dengan nilai yang sulit dijangkau raksasa Serie A. Akibatnya, strategi utama klub Italia di bursa transfer adalah menjual aset berharga untuk mendanai pembelian berikutnya. Prinsip sederhana berlaku: uang harus masuk sebelum keluar.
Namun, ada pengecualian. Como, misalnya, beruntung memiliki pemilik super kaya yang rela mengucurkan dana besar. Klub yang baru promosi ini bisa bergerak lebih leluasa sebelum aturan Financial Fair Play mulai mengikat. Sementara itu, Napoli justru menjadi klub yang paling terhambat. Kegagalan mereka menjaga keseimbangan keuangan membuat klub asal Campania itu tidak bisa mendatangkan pemain baru sebelum ada yang hengkang. Situasi ini semakin pelik setelah transfer Jesper Lindstrom ke Schalke 04 batal di menit-menit akhir.
Inter Milan juga menghadapi dilema serupa. Beberapa kesepakatan yang nyaris rampung harus gagal di ujung tanduk. Kini, Cristian Romero masih menunggu keputusan Benjamin Pavard untuk meninggalkan klub sebelum ia bisa pindah dari Tottenham Hotspur dengan nilai sekitar โฌ40 juta. Sementara itu, Roma mulai berani menggelontorkan dana, seperti pembelian Santiago Castro dari Bologna senilai โฌ35 juta. Namun, pelatih Gian Piero Gasperini tetap membutuhkan penjualan pemain lain untuk memenuhi permintaannya yang semakin mendesak.
Di tengah kebuntuan umum, Juventus justru tampil sebagai pembelanja paling agresif di luar Inggris. Setelah negosiasi panjang, mereka berhasil mengamankan Randal Kolo Muani dari Paris Saint-Germain dan mengejutkan publik dengan merekrut Kerim Alajbegovic dari Bayer Leverkusen. Langkah ini sebagian didanai oleh pelepasan Joao Mario ke Fiorentina dan Vasilije Adzic ke Sassuolo, keduanya dengan skema pinjaman plus opsi pembelian. Namun, analis keuangan Calcio e Finanza mencatat bahwa gaji Dusan Vlahovic yang selangit justru membuat musim terakhirnya lebih mahal daripada merekrut dua pemain top sekaligus.
Fenomena ini memiliki implikasi menarik bagi sepak bola Indonesia. Ketimpangan finansial antara liga-liga Eropa dan Asia semakin terlihat, dan klub-klub Indonesia yang ingin bersaing di level Asia harus belajar dari strategi manajemen keuangan yang ketat. Regulasi seperti Financial Fair Play bisa menjadi pelajaran berharga agar klub-klub kita tidak mengalami kesulitan serupa. Di sisi lain, minat klub-klim Eropa terhadap pemain Asia Tenggara, termasuk Indonesia, bisa menjadi peluang jika klub-klub lokal mampu mengelola aset pemain dengan baik.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah klub-klub Serie A mampu bertahan dengan model bisnis yang mengharuskan mereka menjual sebelum membeli. Akankah Juventus terus menjadi pengecualian, atau justru menjadi contoh bagaimana klub besar bisa tetap kompetitif tanpa melanggar aturan? Sementara itu, para penggemar sepak bola Indonesia tentu berharap agar pelajaran dari Serie A ini dapat mendorong pengelolaan klub yang lebih profesional di tanah air.



