Prabowo Antar PM Thailand Anutin ke Bandara, Kunjungan Bersejarah 15 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo secara langsung melepas Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, menandai penutupan kunjungan resmi pertamanya ke Indonesia.
- Kunjungan dua hari ini menjadi tonggak baru hubungan bilateral, dengan komitmen memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, investasi, dan keamanan regional.
- Pertemuan ini membuka peluang peningkatan target perdagangan bilateral hingga 20 miliar dolar AS pada 2030, yang berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Presiden Prabowo Subianto secara pribadi mengantar kepulangan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa sore, menandai akhir dari kunjungan resmi yang bersejarah. Anutin, yang baru menjabat sebagai PM ke-32 Thailand sejak September 2025, menjadi pemimpin Thailand pertama yang melakukan kunjungan resmi ke Indonesia dalam 15 tahun terakhir.
Kedatangan Anutin pada Senin lalu langsung disambut dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka, dilanjutkan dengan pertemuan bilateral yang membahas berbagai agenda strategis. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin menyepakati penguatan kerja sama di bidang perdagangan, investasi, ekonomi digital, ketahanan pangan, energi, pertahanan, pariwisata, serta pemberantasan kejahatan lintas negara.
Momen pelepasan di Lanud Halim berlangsung khidmat, dengan Prabowo mengenakan safari krem dan kopiah hitam, sementara Anutin tampil dalam setelan jas hitam. Keduanya berjalan melewati pasukan jajar kehormatan sebelum Anutin menaiki pesawat Royal Thai Air Force yang lepas landas sekitar pukul 16.30 WIB. Sejumlah pejabat tinggi Indonesia turut hadir, termasuk Menteri Luar Negeri Sugiono, Menko Polkam Djamari Chaniago, Mensesneg Prasetyo Hadi, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni diplomatik, melainkan membawa dampak konkret bagi perekonomian Indonesia. Kedua negara menargetkan peningkatan perdagangan bilateral hingga 20 miliar dolar AS pada 2030, sebuah angka yang mencerminkan optimisme baru di tengah dinamika ekonomi global. Bagi pelaku usaha Indonesia, ini berarti peluang ekspansi pasar ke Thailand, salah satu ekonomi terbesar di ASEAN, serta potensi investasi di sektor-sektor prioritas seperti ekonomi digital dan energi.
Dari perspektif geopolitik, kunjungan Anutin memperkuat posisi Indonesia sebagai poros stabilitas di ASEAN. Kerja sama pertahanan dan keamanan yang disepakati menjadi sinyal penting di tengah ketegangan di Laut China Selatan dan rivalitas kekuatan besar. Bagi Indonesia, kedekatan dengan Thailand juga membuka ruang untuk memperkuat solidaritas ASEAN dalam menjaga netralitas dan stabilitas kawasan.
Para pengamat menilai bahwa kunjungan ini merupakan langkah awal yang positif, namun tantangan ke depan adalah bagaimana menerjemahkan komitmen politik menjadi aksi nyata. Implementasi perjanjian perdagangan, penyelesaian hambatan non-tarif, serta penguatan konektivitas logistik menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dieksekusi oleh kedua pemerintah.
Dengan berakhirnya kunjungan ini, pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah kedua negara mampu menjaga momentum ini untuk mewujudkan target ambisius 2030? Jawabannya akan menentukan apakah hubungan bilateral ini hanya sebatas seremoni atau menjadi fondasi bagi integrasi ekonomi ASEAN yang lebih dalam.



