Intervensi Yen Jepang-AS Bakal Terulang? Mantan Pejabat BOJ: Hampir Pasti
Baca dalam 60 detik
- Mantan pejabat BOJ memprediksi Jepang dan AS akan kembali melakukan intervensi bersama jika yen kembali tertekan, menyusul aksi serupa yang baru terjadi.
- Dukungan AS dianggap menghilangkan hambatan bagi Jepang untuk turun tangan, sekaligus memberi sinyal kuat bagi pelaku pasar untuk tidak berani berspekulasi.
- Keberhasilan jangka panjang penguatan yen masih bergantung pada kebijakan fiskal dan moneter pemerintah baru, bukan hanya intervensi sesaat.

Intervensi gabungan Jepang dan Amerika Serikat untuk menyokong nilai tukar yen bukanlah aksi sekali jalan. Mantan pejabat bank sentral yang pernah terlibat langsung dalam operasi pasar, Atsushi Takeuchi, meyakini kedua negara akan kembali turun tangan jika yen menunjukkan tanda-tanda melemah lagi. Pernyataan ini muncul di tengah ketidakpastian pasar yang masih membayangi mata uang Jepang setelah aksi intervensi langka pekan lalu.
Takeuchi, yang kini menjabat presiden Ricoh Institute of Sustainability and Business, menilai intervensi bersama yang dilakukan akhir pekan lalu sangat efektif dalam mengubah persepsi pasar. Aksi tersebut, menurutnya, mengirim sinyal bahwa pelemahan yen secara sepihak tidak akan dibiarkan berlanjut. Yang lebih penting, dukungan AS secara simbolis menghapus keraguan tentang kemampuan Jepang untuk bertindak, karena AS secara teoretis memiliki akses likuiditas dolar yang tidak terbatas.
"Fakta bahwa AS berdiri di belakang Jepang memiliki makna simbolis yang besar," ujar Takeuchi dalam wawancara dengan Reuters. Ia bahkan menegaskan bahwa jika ia masih mengelola dana lindung nilai, ia tidak akan berani berspekulasi terhadap pasangan dolar-yen saat ini. Sikap ini mencerminkan keyakinan bahwa intervensi berikutnya bukan sekadar kemungkinan, melainkan kepastian jika yen kembali tertekan.
Setelah aksi intervensi, yen sempat menguat ke level 155,20 per dolar AS, level tertinggi dalam tiga bulan, sebelum akhirnya berada di kisaran 157,60. Angka ini masih jauh dari level terendah 40 tahun di dekat 164 yang sempat disentuh bulan lalu. Takeuchi memperkirakan yen akan bergerak dalam rentang 155 hingga 162 per dolar dalam waktu dekat. Jika yen mampu bertahan di atas 160 selama seminggu lagi, pasar akan menganggap level tersebut sebagai dasar jangka pendek dan mulai mendorong mata uang ini menguat.
Namun, Takeuchi menggarisbawahi bahwa intervensi saja tidak cukup untuk memberikan dorongan berkelanjutan bagi yen. Ia menyoroti kebijakan Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dianggap pasar masih condong ke ekspansi fiskal dan berpotensi menekan bank sentral untuk tidak menaikkan suku bunga. Persepsi ini, menurutnya, harus dihilangkan agar penguatan yen bisa bertahan lama. Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 10 tahun ke level tertinggi 30 tahun bulan lalu merupakan indikasi pasar merespons rencana belanja besar-besaran Takaichi.
Menariknya, Takeuchi menilai kenaikan imbal hasil JGB yang agresif itulah yang mendorong AS untuk ikut serta dalam intervensi. Washington, kata dia, khawatir akan efek penularan (contagion) jika situasi di pasar obligasi Jepang terus memburuk. AS sendiri menghadapi penurunan fiskal yang berlangsung cepat, sehingga imbal hasil obligasinya rentan terhadap gejolak dari Jepang. "Bagi siapa pun yang mengamati pasar obligasi, aksi jual JGB baru-baru ini sungguh luar biasa," ujarnya.
Bagi Indonesia, dinamika yen dan kebijakan moneter Jepang memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan sumber investasi penting bagi Indonesia. Pelemahan yen yang berlarut-larut dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia, sementara kenaikan imbal hasil obligasi Jepang berpotensi menggeser aliran dana asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan suku bunga bank sentral Jepang (BOJ) yang cenderung hawkish dapat memperkuat yen dan mempengaruhi nilai tukar rupiah secara tidak langsung.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah pemerintah baru Jepang mampu mengelola ekspektasi pasar terhadap kebijakan fiskalnya. Jika Takaichi gagal meyakinkan pasar bahwa ia tidak akan mengganggu independensi BOJ, tekanan terhadap yen bisa kembali muncul, dan intervensi lanjutan hampir pasti terjadi. Namun, jika ia berhasil menyeimbangkan stimulus fiskal dengan disiplin moneter, yen berpeluang menguat lebih stabil. Bagi pelaku pasar di kawasan, termasuk Indonesia, perkembangan ini layak dicermati karena dapat mempengaruhi arus modal dan stabilitas nilai tukar di Asia.



