Ekonomi Jepang Diprediksi Tumbuh Kuartal Ketiga, Dorongan Domestik Jadi Penopang
Baca dalam 60 detik
- Survei Reuters memperkirakan PDB Jepang kuartal II tumbuh 2,0% tahunan, ditopang konsumsi dan belanja modal yang solid.
- Kenaikan suku bunga BOJ pada September menjadi sorotan, dengan data pertumbuhan sebagai bahan pertimbangan utama.
- Konflik Timur Tengah masih menjadi risiko, namun permintaan domestik dan impor yang menurun memberi ruang pemulihan.

Tokyo, 7 Agustus 2025 โ Ekonomi Jepang diproyeksikan mencatat ekspansi untuk kuartal ketiga berturut-turut pada periode April-Juni, didorong oleh permintaan domestik yang kuat dan penurunan impor yang berhasil mengimbangi tekanan dari konflik Timur Tengah. Hal ini terungkap dalam jajak pendapat terbaru yang dilakukan Reuters terhadap 15 ekonom.
Berdasarkan perkiraan median, Produk Domestik Bruto (PDB) riil Jepang tumbuh 2,0 persen secara tahunan pada kuartal kedua, melanjutkan laju 1,8 persen pada kuartal pertama. Secara kuartalan, pertumbuhan diperkirakan mencapai 0,5 persen. Angka ini menjadi sinyal bahwa perekonomian negeri Sakura tetap resilien di tengah ketidakpastian global.
Konsumsi rumah tangga, yang menyumbang lebih dari separuh PDB Jepang, diperkirakan tumbuh 0,5 persen. Sementara itu, belanja modal diprediksi naik 0,4 persen setelah terkontraksi 0,7 persen pada kuartal sebelumnya. Permintaan eksternal bersih, atau ekspor dikurangi impor, diperkirakan menambah 0,3 poin persentase terhadap pertumbuhan, sejalan dengan kontribusi kuartal sebelumnya.
Para analis menilai solidnya konsumsi dan investasi tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang meringankan beban biaya hidup serta upaya diversifikasi pasokan energi. Meski perang AS-Israel dengan Iran memicu kenaikan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok, Jepang tampaknya mampu bertahan. Junpei Fujita, analis senior di Mitsubishi UFJ Research and Consulting, menyebut kontribusi permintaan eksternal diperkirakan positif signifikan, didorong lonjakan sementara ekspor jasa dan penurunan impor, terutama bahan bakar mineral.
"Secara keseluruhan, angka-angka ini kemungkinan mengonfirmasi bahwa ekonomi terus pulih secara bertahap. Namun, konfrontasi berkepanjangan antara AS dan Iran tetap menjadi sumber kekhawatiran ke depan," ujar Fujita.
Pertumbuhan ekonomi ini menjadi salah satu faktor yang akan dipertimbangkan Bank of Japan (BOJ) dalam keputusan menaikkan suku bunga, yang bisa terjadi paling cepat September mendatang. Pasar akan mencermati apakah BOJ akan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter setelah sebelumnya menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki relevansi. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama dan investor terbesar di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Jepang yang stabil berarti permintaan terhadap komoditas ekspor Indonesia, seperti batu bara, gas alam, dan produk manufaktur, berpotensi tetap terjaga. Di sisi lain, kebijakan suku bunga BOJ yang hawkish dapat mempengaruhi arus modal asing ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pemerintah Jepang dijadwalkan merilis data pendahuluan PDB kuartal II pada 17 Agustus 2025. Angka final bisa saja berbeda, namun konsensus sementara menunjukkan optimisme yang hati-hati. Pertanyaannya, mampukah Jepang mempertahankan momentum ini jika konflik di Timur Tengah semakin memanas? Atau justru BOJ akan menahan diri menaikkan suku bunga demi melindungi pemulihan yang masih rapuh? Semua akan terjawab dalam beberapa pekan mendatang.



