Gelombang Panas Ekstrem, Warga Korea Pilih 'Mallcation' dan Bandara sebagai Pelarian
Baca dalam 60 detik
- Suhu mendekati 40 derajat Celsius memicu pergeseran perilaku warga Korea Selatan, dari liburan konvensional menjadi menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan ber-AC.
- Kunjungan ke Lotte World Mall dan Hyundai Seoul melonjak signifikan, sementara lansia memanfaatkan fasilitas gratis seperti bandara dan kereta bawah tanah.
- Fenomena ini menyoroti kesenjangan sosial dalam menghadapi perubahan iklim, dengan solusi berbiaya rendah menjadi krusial bagi kelompok rentan.

Gelombang panas yang melanda Korea Selatan dengan suhu mendekati 40 derajat Celsius telah mengubah cara warga menghabiskan waktu luang. Alih-alih bepergian jauh, banyak yang memilih berlindung di dalam ruangan ber-AC, memicu tren yang dijuluki 'mallcation'โliburan di pusat perbelanjaan.
Fenomena ini terlihat jelas dari lonjakan pengunjung di sejumlah pusat perbelanjaan besar. Lotte World Mall di Jamsil-gu, Seoul, mencatat sekitar 450.000 pengunjung pada akhir pekan lalu, meningkat 30.000 orang dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, Hyundai Seoul di Yeouido mengalami kenaikan 15,2 persen secara tahunan, dan E-mart mencatat pertumbuhan trafik 11,6 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pusat perbelanjaan bukan sekadar tempat belanja, melainkan destinasi hiburan lengkap dengan pameran, toko pop-up, dan restoran.
Bagi generasi muda, 'mallcation' menjadi solusi praktis di tengah cuaca ekstrem. Lee Hye-ji, pekerja kantoran berusia 28 tahun, mengaku lebih memilih menghabiskan waktu di mal daripada bepergian. "Saat bepergian, saya terus berpindah tempat. Dalam panas seperti ini, memikirkan perjalanan saja sudah melelahkan," ujarnya. Pola ini juga diikuti keluarga dengan anak-anak, yang memanfaatkan kafe besar dan perpustakaan sebagai tempat nongkrong sambil menghemat listrik rumah.
Namun, tidak semua warga mampu menikmati kemewahan mal. Kelompok lansia justru memanfaatkan fasilitas publik gratis. Bandara Gimpo International menjadi tempat nongkrong favorit, dengan para lansia mengisi bangku di lobi sambil bermain janggi atau sekadar menonton TV. Kim Jung-soo, 69 tahun, mengaku sering menghabiskan waktu di stasiun kereta atau mal yang terhubung dengan transportasi umum. "Kalau di rumah, saya hanya berbaring. Lebih baik keluar dan bertemu orang," katanya. Fasilitas ini didukung program subway gratis bagi warga berusia 65 tahun ke atas, sebuah kebijakan yang sudah ada sejak 1984.
Di sisi lain, pusat-pusat komunitas lansia juga beradaptasi. Di Busan, Asosiasi Senior Korea menggelar turnamen Rummikub untuk memperkaya aktivitas di luar permainan kartu tradisional. Sementara di Daejeon, pusat kesejahteraan mengadakan permainan kognitif dengan perangkat sentuh interaktif untuk mencegah demensia. Seorang pejabat pusat tersebut menjelaskan, "Cuaca panas membuat lansia lelah. Kami ingin memberi mereka kegiatan baru di dalam ruangan agar tidak bosan."
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, yang kerap dilanda suhu ekstrem dan memiliki populasi lansia yang terus bertambah. Meski belum ada program serupa seperti 'mallcation', tren ini bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya ruang publik ber-AC yang terjangkau. Di kota-kota besar seperti Jakarta, mal sudah menjadi tempat nongkrong, tetapi akses bagi lansia dan kelompok berpenghasilan rendah masih terbatas. Pemerintah dapat mempertimbangkan perluasan program ruang pendingin publik atau subsidi transportasi untuk kelompok rentan.
Dengan BMKG Korea memperkirakan panas ekstrem akan berlangsung setidaknya 10 hari ke depan, pertanyaannya adalah: apakah kota-kota di Indonesia siap menghadapi gelombang panas serupa? Adaptasi terhadap perubahan iklim tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga kebijakan yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat.



