BRIN Menelusuri Sungai Bawah Tanah Kebumen demi Ketahanan Air Nasional
Baca dalam 60 detik
- BRIN memetakan aliran sungai bawah tanah di Kebumen untuk mengatasi krisis air bersih, merespons instruksi Presiden Prabowo.
- Tingginya kadar E. coli di sumber air menjadi tantangan utama yang mendorong riset teknologi pengolahan air.
- Langkah ini menegaskan komitmen riset geologi dan teknologi air sebagai fondasi ketahanan air jangka panjang Indonesia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengerahkan tim peneliti untuk memetakan alur sungai bawah tanah di kawasan Goa Barat, Kebumen, Jawa Tengah. Langkah ini bukan sekadar ekspedisi ilmiah: ia merupakan respons langsung terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto yang menaruh perhatian serius pada ketahanan air nasional. Kunjungan Kepala BRIN Arif Satria ke lokasi pada Minggu (2/8) menandai dimulainya babak baru riset sumber daya air yang selama ini terabaikan.
Di balik potensi besar sungai bawah tanah sebagai sumber air bersih, tersimpan persoalan kualitas yang tidak bisa diabaikan. Indikasi awal menunjukkan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) yang tinggi pada air di Goa Barat. Arif Satria menggarisbawahi bahwa riset tidak hanya berhenti pada pemetaan aliran, tetapi juga harus menghasilkan solusi pengolahan air yang tepat guna. "Bagaimana kita bisa memecahkan masalah kualitas air, karena memang air yang ada di sungai bawah tanah disinyalir mengandung E. coli yang tinggi," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin.
Kunjungan ini sekaligus menjadi ajang konsolidasi arah riset strategis BRIN. Setelah meninjau Goa Barat, Arif melanjutkan agenda ke Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Karangsambung, pusat riset geologi yang dilengkapi museum, koleksi batuan, dan laboratorium. Dialog dengan para periset di sana difokuskan pada penyusunan agenda riset jangka panjang di bidang geologi dan teknologi air. "Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk merumuskan agenda riset kita ke depan di bidang geologi, arah riset di bidang teknologi air, yang menunjang ketahanan air kita ke depan," tutur Arif.
Langkah BRIN ini memiliki relevansi yang mendalam bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan curah hujan tinggi, ironisnya banyak wilayah masih kekurangan air bersih. Sungai bawah tanah selama ini menjadi potensi yang belum tergarap maksimal. Riset yang dilakukan BRIN di Kebumen diharapkan menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi tantangan serupa. Jika teknologi pengolahan air yang efektif berhasil dikembangkan, maka ketergantungan pada air permukaan yang rentan polusi dapat dikurangi secara signifikan.
Namun, tantangan tidak hanya bersifat teknis. Diperlukan investasi besar, kolaborasi lintas sektor, dan kebijakan yang mendukung agar hasil riset dapat diterjemahkan menjadi infrastruktur nyata. Pertanyaannya, akankah riset ini berhenti pada publikasi ilmiah, atau akan berlanjut menjadi solusi aplikatif yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat? Waktu yang akan menjawab, tetapi komitmen awal yang ditunjukkan BRIN memberikan sinyal positif bagi masa depan ketahanan air Indonesia.



