Ancaman Kehilangan Ndiaye, Everton Berburu Grealish Lagi
Baca dalam 60 detik
- Iliman Ndiaye terancam hengkang ke Al Hilal dengan banderol £70 juta, memaksa Everton bergerak cepat di bursa transfer.
- Jack Grealish menjadi target utama Everton setelah sukses dipinjamkan musim lalu, tetapi ia lebih berperan sebagai kreator ketimbang pencetak gol.
- Kepergian Ndiaye bisa mengubah strategi serangan Everton, yang membutuhkan tambahan striker tajam untuk mengimbangi peran Grealish sebagai pengatur serangan.

Kepergian Iliman Ndiaye dari Everton semakin mendekati kenyataan. Klub raksasa Arab Saudi, Al Hilal, dikabarkan siap memenuhi banderol £70 juta yang dipasang The Toffees, meninggalkan David Moyes dan tim transfernya dengan pekerjaan rumah berat: mempertahankan ketajaman lini depan tanpa pemain asal Senegal itu.
Ndiaye, 26 tahun, telah menjadi salah satu penggedor utama Everton dalam dua musim terakhir. Meski musim 2025/26 ia hanya mencetak enam gol di Premier League, kontribusinya sebagai kreator dan ancaman dari kedua sisi sayap membuatnya sulit tergantikan. Ketajaman Beto sebagai ujung tombak dianggap kurang meyakinkan oleh sebagian besar pendukung Everton, sehingga Ndiaye menjelma figur sentral yang selalu diandalkan. Situasi ini diperparah oleh minimnya opsi serangan lain setelah Tyrique George mempermanenkan masa pinjamannya, tetapi belum cukup untuk mengangkat level permainan tim.
Menghadapi situasi ini, Everton dilaporkan telah membuka pembicaraan dengan Manchester City untuk mendatangkan Jack Grealish kembali ke Merseyside. Gelandang sayap berusia 30 tahun itu menjalani masa pinjaman yang sukses di Goodison Park pada musim 2025/26, meski harus terhenti pada Januari akibat cedera kaki. Grealish disebut ingin kembali, dan negosiasi kini hanya berkutat pada kesepakatan biaya dengan City.
Gaya bermain Grealish sangat berbeda dengan Ndiaye. Jika Ndiaye lebih klinis di depan gawang, Grealish unggul dalam menggiring bola, kontrol ketat, dan kecerdasan membangun serangan. Ia tidak terlalu sering menembak, tetapi lebih memilih menjadi kreator. Menurut analis sepak bola Inggris, peran Grealish musim lalu mendorong Ndiaye pindah ke sisi kanan, yang mungkin berkontribusi pada penurunan produktivitasnya di akhir musim. Moyes diyakini melihat Grealish sebagai arsitek serangan yang bisa menyuplai bola bagi striker murni yang akan didatangkan nanti.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergerakan bursa ini menjadi cermin bagaimana klub Premier League mengelola transisi pemain bintang. Strategi Everton yang mengutamakan pemain pinjaman berpengalaman seperti Grealish bisa menjadi pelajaran bagi klub Liga 1 yang kerap kehilangan bintangnya ke klub luar negeri. Selain itu, ketertarikan Al Hilal terhadap Ndiaye menegaskan dominasi finansial klub Saudi yang mulai merambah pemain Premier League di usia prima, bukan hanya pemain senior.
“Merekrut Grealish lagi bisa menjadi langkah cerdas jika Everton mampu mendatangkan satu striker tajam lagi. Grealish bukan pencetak gol, tapi ia bisa menjadi motor serangan yang membuat lini depan lebih hidup,” ujar seorang pengamat transfer asal Inggris.
Pertanyaan besarnya, apakah Grealish bisa kembali ke performa terbaiknya? Musim lalu ia start impresif, tetapi cedera menghentikan langkahnya. Jika ia mampu bertahan fit sepanjang musim, Everton berpeluang mengejar ketertinggalan dari zona Eropa yang sempat mereka raih sebelum merosot di akhir musim. Namun, jika hanya mengandalkan Grealish tanpa tambahan pencetak gol, ancaman kegagalan tetap membayangi. Keputusan dalam beberapa pekan ke depan akan menentukan apakah Everton bisa bangkit atau justru kehilangan daya saing di Premier League.



