Kepergian Eddie Howe: Newcastle Terjebak Aturan Keuangan, Ambisi 2030 Terhambat
Baca dalam 60 detik
- Eddie Howe mundur setelah empat setengah tahun, frustrasi dengan pembatasan belanja dan penjualan pemain bintang akibat aturan keuangan Premier League.
- Newcastle hanya berhasil mempertahankan satu trofi domestik dalam 70 tahun, namun musim lalu finis ke-12 dan kehilangan tiga pemain kunci untuk menyeimbangkan neraca.
- Aturan Profit and Sustainability (PSR) dan Squad Cost Ratio membuat Newcastle tak bisa bersaing secara finansial dengan klub papan atas, mengancam target menjadi yang terbaik pada 2030.

Kepergian Eddie Howe dari kursi manajer Newcastle United bukan sekadar hasil akhir musim yang mengecewakan, melainkan cerminan benturan antara ambisi besar dan tembok aturan keuangan yang tak bisa ditembus. Klub yang dicaplok Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF) pada 2021 itu kini harus menghadapi kenyataan pahit: menjadi yang terbaik di dunia pada 2030, seperti yang dicanangkan CEO David Hopkinson, terasa semakin jauh.
Howe, yang mengakhiri puasa gelar domestik Newcastle selama 70 tahun dengan menjuarai Carabao Cup musim lalu, memutuskan hengkang di tengah pramusim. Keputusan itu diambil setelah klub melego tiga pemain terbaiknya dalam setahun terakhir: Alexander Isak ke Liverpool (£125 juta), Anthony Gordon ke Barcelona, dan Sandro Tonali ke Tottenham. Kapten Bruno Guimaraes pun dikabarkan menyusul. Situasi ini membuat Howe frustrasi karena ia tak bisa membangun skuad yang kompetitif.
Faktor utama di balik kebijakan jual-beli ini adalah Profit and Sustainability Rules (PSR) yang membatasi defisit klub. Dalam tiga tahun pertama di bawah PIF, Newcastle menghabiskan £404,7 juta namun hanya mendapat £50,4 juta dari penjualan. Akibatnya, mereka harus menjual pemain seperti Elliot Anderson dan terus merampingkan tim. Musim ini, anggaran berdasarkan Squad Cost Ratio (SCR) Newcastle hanya £243 juta, yang menempatkan mereka di peringkat kesembilan Premier League – jauh di bawah rival seperti Manchester City atau Chelsea.
Menariknya, pengunduran diri Howe terjadi saat PIF tengah meninjau portofolio investasinya. Tahun lalu, dana tersebut menarik dukungan miliaran dolar dari LIV Golf, memicu spekulasi tentang masa depan Newcastle. Namun, pejabat klub menegaskan bahwa langkah itu tidak mempengaruhi komitmen PIF terhadap klub. Sementara itu, kandidat pengganti Howe, Matthias Jaissle, saat ini menangani Al-Ahli di Saudi – klub yang baru saja dilepas PIF pada April lalu. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang arah strategi rekrutmen Newcastle ke depan, yang kini lebih berfokus pada pemain muda tak dikenal seperti Bazoumana Traore dan Aladji Bamba.
Bagi penggemar Newcastle, kepergian Howe di saat pramusim terasa membingungkan. Mantan bek Newcastle, Steve Howey, mengakui keterkejutannya namun juga memahami situasi: “Eddie terus-menerus memadamkan api. Anda kehilangan pemain terbaik, sulit membangun sesuatu.” Pertanyaan besar kini menggantung: apakah Newcastle akan mampu keluar dari lingkaran setan aturan keuangan ini, atau ambisi 2030 hanya akan menjadi mimpi yang terus menunda?



