Banjir Rendam Sejumlah Kawasan di Yangon Akibat Hujan Deras, Warga Mengungsi
Baca dalam 60 detik
- Hujan lebat yang mengguyur Yangon sejak Selasa malam menyebabkan banjir di tujuh wilayah pemukiman, memaksa warga menyelamatkan diri saat air naik hingga setinggi tempat tidur.
- Badan Meteorologi Myanmar memperkirakan hujan deras masih akan berlangsung hingga Rabu malam, dengan potensi angin kencang dan petir di sejumlah negara bagian.
- Organisasi sosial setempat telah bergerak mendistribusikan bantuan, sementara kondisi air mulai surut setelah hujan reda pada siang hari.

Hujan deras yang mengguyur Kota Yangon, Myanmar, sejak Selasa malam hingga Rabu pagi menyebabkan banjir di sejumlah kawasan pemukiman, merendam rumah warga dan memaksa mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman. Di beberapa titik, air bahkan mulai memasuki area tempat tidur pada dini hari, memicu kepanikan di kalangan penduduk.
Curah hujan tinggi yang berlangsung berturut-turut selama hampir 12 jam itu mulai terasa sejak Selasa (28/7) malam dan baru mereda pada Rabu (29/7) siang. Menurut keterangan warga di Insein Township, ketinggian air terus naik perlahan hingga mencapai puncaknya pada pukul 02.00 waktu setempat, saat tempat tidur mereka mulai terendam. โKami sudah berjaga sejak malam. Air naik pelan. Pukul 02.00, kasur sudah terendam. Siang ini air agak surut. Hujan sudah berhenti. Ada yang membagikan paket nasi,โ ujar seorang penghuni setempat.
Banjir melanda setidaknya tujuh wilayah di Yangon, antara lain Insein, Shwe Pyi Thar, North Dagon, East Dagon, Mayangone, South Okkalapa, serta persimpangan jalan bersejarah di pusat kota. Di Perkampungan Inn Pauk Su, Ward 24, Shwe Pyi Thar, sejumlah organisasi sosial bahu-membahu menyalurkan bantuan darurat. โKami bekerja sama dengan lembaga amal setempat untuk memberikan bantuan,โ tulis petugas sebuah yayasan di media sosial.
Setelah hujan berhenti pada sore hari, ketinggian air di sejumlah titik mulai menurun. Namun, Badan Meteorologi dan Hidrologi Myanmar memperingatkan bahwa potensi hujan deras masih tinggi di Region Yangon, Bago, Ayeyarwady, Tanintharyi, serta negara bagian Kayin, Chin, Mon, Rakhine, dan Shan (Timur) hingga Rabu malam. Selain itu, hujan ringan disertai badai petir juga diperkirakan terjadi di Sagaing, Mandalay, Magway, dan Kayah. Masyarakat diminta waspada terhadap angin kencang, petir, dan kemungkinan hujan es di area yang mengalami pembentukan awan tebal.
Fenomena banjir di Yangon ini mengingatkan pada kondisi serupa yang kerap terjadi di beberapa wilayah Indonesia saat musim hujan. Pola cuaca ekstrem seperti hujan lebat dalam waktu singkat sering memicu banjir bandang dan genangan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Bagi warga Indonesia yang tinggal di wilayah rawan banjir, peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan cuaca yang makin tidak menentu. Para ahli meteorologi menilai bahwa intensitas hujan yang tinggi di Asia Tenggara belakangan ini dipengaruhi oleh anomali iklim global, termasuk fenomena La Nina yang masih aktif.
Ke depan, warga Yangon masih harus menghadapi ancaman cuaca buruk dalam beberapa hari ke depan. Meskipun banjir mulai surut, risiko tanah longsor dan penyakit bawaan air seperti diare dan leptospirosis tetap mengintai. Pemerintah Myanmar bersama organisasi kemanusiaan diimbau untuk terus memantau situasi dan menyediakan tempat pengungsian yang layak. Pertanyaan yang kini mengemuka: sejauh mana infrastruktur drainase dan sistem peringatan dini di Yangon mampu meredam dampak banjir jika hujan ekstrem kembali melanda?



