Sepekan Karhutla di Gunung Latimojong: Api Merambat ke Pos 4–6, Jalur Pendakian Ditutup Tanpa Batas Waktu
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Latimojong, Enrekang, Sulawesi Selatan, telah berlangsung tujuh hari dan merembet ke sisi kiri-kanan jalur pendakian.
- Pemerintah Kecamatan Buntu Batu mempertahankan status penutupan jalur sejak akhir Agustus karena kondisi vegetasi sangat kering dan api masih aktif di beberapa titik.
- Warga menolak pembukaan kembali akses pendakian selama musim kemarau berlangsung, menandakan risiko keselamatan jiwa lebih besar daripada potensi kunjungan wisata.

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, belum menunjukkan tanda-tanda surut setelah sepekan lebih. Api yang pertama kali terdeteksi di jalur merah melalui Dusun Angin-angin pada 11 Oktober itu kini menjalar ke sisi kiri dan kanan jalur, mencapai Pos 4, Pos 5, dan Pos 6. Kepulan asap tebal masih terlihat membumbung dari lokasi, sementara jalur pendakian yang ditutup sejak akhir Agustus belum dibuka kembali.
Pemandu wisata Gunung Latimojong, Sunardi, mengungkapkan bahwa titik terparah saat ini berada di Pos 5. Menurutnya, kobaran api terus bergerak menjauh dari jalur utama dan menyebar ke area vegetasi di sekitarnya. "Api sudah masuk hari ketujuh dan menyebar ke kiri dan kanan jalur. Asap tebal masih naik di lokasi ini," ujarnya seperti dikutip dari detik.com, Minggu (18/10).
Penutupan jalur bukan keputusan baru. Camat Buntu Batu, Jasmin, menjelaskan bahwa akses pendakian ditutup sejak 18 Agustus 2026, tepat setelah kebakaran pertama melanda puncak Pentialloan pada ketinggian 2.650 meter di atas permukaan laut. Saat itu, warga setempat menolak pembukaan kembali jalur karena sejumlah titik api masih aktif dan kondisi hutan sangat kering. "Saya sarankan ditutup pada 18 Agustus karena sudah berapa kali terjadi kebakaran," kata Jasmin.
Yang membedakan insiden kali ini dari kebakaran sebelumnya adalah skala perluasan area. Jika pada Agustus api terpusat di puncak Pentialloan, kini kobaran telah merambat ke sejumlah pos pendakian yang menjadi jalur favorit para pendaki. Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau yang membuat bahan bakar alami di lantai hutan—dedaunan kering, ranting, dan semak—menjadi sangat mudah terbakar. Warga sekitar pun menilai membuka kembali jalur saat kemarau masih berlangsung sama saja dengan mengundang risiko.
Jasmin menegaskan bahwa pihaknya tidak akan terburu-buru mencabut status penutupan. "Selama belum masuk musim hujan, rawan sekali kalau jalur dibuka. Sampai sekarang belum dibuka. Kita lihat situasi dulu," tegasnya. Pernyataan itu sekaligus menggarisbawahi bahwa pertimbangan keselamatan pendaki menjadi prioritas utama, meskipun sektor pariwisata di kawasan tersebut berpotensi kehilangan pendapatan selama penutupan berlangsung.
Gunung Latimojong merupakan salah satu destinasi pendakian populer di Sulawesi Selatan, dengan puncak tertinggi di Indonesia bagian timur. Namun, karakteristik hutannya yang relatif kering pada musim kemarau membuat kawasan ini berulang kali dilanda kebakaran. Catatan sebelumnya menunjukkan insiden serupa terjadi pada 18 Agustus 2026 di Buntu Bela, Dusun Karuaja, Desa Latimojong, sekitar pukul 11.00 Wita. Jarak lokasi kebakaran saat itu sekitar 10 kilometer dari permukiman warga, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. Meski demikian, frekuensi kejadian yang meningkat dalam dua bulan terakhir menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan mitigasi di kawasan konservasi tersebut.
"Di sana sudah berapa kali kebakaran, tapi masih jauh dari kampung. Warga menolak jalur dibuka karena selain titik api, hutan betul-betul kering." — Sunardi, pemandu Gunung Latimojong
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai penyebab pasti kebakaran, apakah murni faktor alam seperti gesekan ranting atau akibat aktivitas manusia. Namun, pola kejadian yang berulang di musim kemarau menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem peringatan dini dan pengelolaan bahan bakar hutan di kawasan Latimojong. Tanpa langkah antisipatif, penutupan jalur pendakian bisa menjadi langkah darurat yang terus berulang setiap tahun.
Ke depan, pertanyaan yang menggantung adalah sejauh mana pemerintah daerah dan pengelola kawasan bersiap menghadapi siklus kebakaran tahunan ini. Apakah penutupan jalur akan menjadi solusi permanen, atau justru mendorong perlunya strategi pencegahan yang lebih sistematis—mulai dari patroli rutin, pengelolaan vegetasi kering, hingga edukasi bagi pendaki dan warga sekitar? Jawabannya akan menentukan apakah Gunung Latimojong tetap menjadi destinasi yang aman atau semakin sering ditutup karena alasan yang sama.



