KPK Segel Kantor Bupati Langkat Usai OTT Dugaan Suap Proyek Pendidikan
Baca dalam 60 detik
- KPK menyegel ruang kerja Bupati Langkat Syah Afandin dalam operasi tangkap tangan terkait suap proyek Dinas Pendidikan dan Perkim.
- Tujuh orang diamankan, termasuk bupati dan seorang ASN, di tiga lokasi berbeda di Sumatera Utara.
- Kasus ini diduga melibatkan gratifikasi dan akan dikembangkan ke penyidikan lebih lanjut.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyegel ruang kerja Bupati Langkat Syah Afandin dan sejumlah titik lainnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Langkat, Jumat (3/7), sebagai bagian dari operasi tangkap tangan (OTT) yang menjerat tujuh orang dalam dugaan suap proyek infrastruktur daerah.
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan, penyegelan dilakukan untuk mengamankan barang bukti dan mempermudah proses hukum ke tahap penyidikan. "Tim memasang garis KPK dan menyegel beberapa lokasi agar nantinya bisa dilakukan penggeledahan sebagai rangkaian upaya paksa," ujarnya di Gedung Merah Putih, Jakarta.
OTT berlangsung di tiga kota: Langkat, Binjai, dan Medan. Selain Bupati Syah Afandin yang ditangkap di rumah pribadinya di Medan, aparat juga mengamankan seorang aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkab Langkat dan lima pihak swasta. Seluruh tersangka langsung dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan intensif.
Kasus ini diduga bermula dari suap untuk proyek-proyek di Dinas Pendidikan dan Dinas Perkim Kabupaten Langkat. KPK juga akan mendalami kemungkinan adanya penerimaan gratifikasi lain oleh bupati atau penyelenggara negara di wilayah tersebut. "Kami akan telusuri apakah ada penerimaan lainnya atau gratifikasi yang dilakukan oleh bupati atau penyelenggara negara di Langkat," tambah Budi.
Langkah KPK ini menjadi sinyal keras bagi kepala daerah di Indonesia bahwa praktik korupsi di sektor pendidikan dan infrastruktur dasar tidak akan ditoleransi. Proyek pendidikan dan perumahan kerap menjadi sasaran karena anggarannya besar dan melibatkan banyak kontraktor. Masyarakat berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan efek jera.
Ke depan, publik menunggu apakah KPK akan mengembangkan kasus ini ke aktor lain, termasuk pihak-pihak di tingkat provinsi atau pusat yang mungkin terlibat. Pertanyaan besarnya: sejauh mana jaringan suap ini telah menggerogoti anggaran daerah selama ini?



