Polres Lampung Utara Gelar Turnamen Mobile Legends, Jembatani Polri dengan Generasi Digital
Baca dalam 60 detik
- Polres Lampung Utara menggelar turnamen Mobile Legends Kapolres Cup 2026 yang diikuti 160 peserta dari 32 tim, sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80.
- Turnamen ini menjadi strategi Polri untuk mendekatkan diri dengan komunitas e-sport yang tumbuh pesat, sekaligus menyalurkan kreativitas generasi muda.
- Kompetisi menyediakan total hadiah Rp3,5 juta dan diharapkan memperkuat hubungan Polri-masyarakat serta menciptakan situasi kamtibmas yang kondusif.

Polres Lampung Utara memanfaatkan gelaran turnamen e-sport Mobile Legends sebagai medium baru untuk merangkul generasi digital dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80, sebuah langkah yang menunjukkan adaptasi institusi kepolisian terhadap tren anak muda. Sebanyak 160 peserta dari 32 tim bertanding di Aula Rekonfu Polres setempat pada Sabtu, 20 Juni 2026, dalam ajang bertajuk Kapolres Cup 2026.
Turnamen ini bukan sekadar kompetisi biasa. Kasi Humas Polres Lampung Utara, IPTU Herawati, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan sportivitas dan kreativitas di kalangan generasi muda yang akrab dengan dunia digital. "Polri ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat, termasuk komunitas e-sport yang saat ini berkembang sangat pesat," ujarnya dalam keterangan resmi.
Langkah Polres Lampung Utara mencerminkan strategi kepolisian yang kian adaptif terhadap perubahan sosial. Di tengah dominasi gawai dan game online, turnamen seperti ini menjadi jembatan untuk membangun komunikasi dua arah antara aparat dan kaum muda. IPTU Herawati menambahkan bahwa perkembangan teknologi harus diimbangi dengan kegiatan positif yang memberi ruang prestasi bagi generasi muda.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal acara. Turnamen ini tidak hanya menawarkan hadiah uang tunaiโtotal Rp3,5 juta untuk tiga juara utamaโtetapi juga door prize yang membuat suasana semakin meriah. Namun, yang lebih penting adalah misi di balik layar: mempererat silaturahmi antara Polri dan generasi muda demi menciptakan situasi kamtibmas yang aman dan kondusif.
Bagi Indonesia, fenomena e-sport telah menjadi industri yang menggerakkan ekonomi kreatif dan menyerap banyak talenta muda. Data Asosiasi E-Sport Indonesia (IESPA) mencatat jumlah pemain aktif game kompetitif di Tanah Air mencapai puluhan juta. Langkah Polri masuk ke ranah ini bisa dilihat sebagai upaya membangun citra institusi yang lebih bersahabat dan relevan dengan keseharian anak muda.
Ke depan, apakah turnamen serupa akan menjadi agenda tahunan di berbagai daerah? Jika konsisten, inisiatif seperti ini berpotensi mengubah pola pendekatan keamanan dan ketertiban masyarakat dari yang represif menjadi partisipatif. Pertanyaannya, sejauh mana Polri siap mengalokasikan sumber daya untuk kegiatan non-tradisional semacam ini secara berkelanjutan?



