Dua Tim, Satu Hari: Keluarga Kerajaan Belanda Rayakan Sejarah di Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Raja Willem-Alexander dan keluarga menyaksikan langsung kemenangan Belanda atas Swedia dan poin perdana Curacao di Piala Dunia pada hari yang sama.
- Curacao, negara kecil bekas jajahan Belanda, mencatat sejarah dengan raihan poin pertama mereka di turnamen sepak bola global.
- Momen ini menyoroti hubungan kompleks Belanda dengan masa lalu kolonialnya, termasuk permintaan maaf resmi raja atas perbudakan pada 2023.

Dalam satu hari yang tak terlupakan di Piala Dunia, Raja Belanda Willem-Alexander, Ratu Maxima, dan Putri Ariane berhasil menyaksikan dua pertandingan berbeda yang melibatkan dua tim berbeda: Belanda dan Curacao. Perjalanan kilat dari Houston ke Kansas City membuahkan hasil manis—kemenangan telak Belanda 5-1 atas Swedia dan poin perdana bersejarah bagi Curacao saat menahan imbang Ekuador.
Bagi keluarga kerajaan Belanda, momen ini lebih dari sekadar euforia olahraga. Curacao, pulau kecil di Karibia dengan populasi 158.000 jiwa, masih menjadi bagian dari Kerajaan Belanda. Hampir seluruh pemain timnas Curacao lahir di Belanda, menciptakan ikatan emosional yang kuat. Raja Willem-Alexander mengaku kepada RTL-TV bahwa turnamen ini terasa istimewa karena ia memiliki dua tim untuk didukung: "Si Biru" (Curacao) dan "Si Oranye" (Belanda).
Kehadiran keluarga kerajaan di stadion bukan sekadar seremoni. Mereka larut dalam perayaan bersama para pemain Curacao di ruang ganti setelah pertandingan. Bagi Curacao, hasil imbang ini adalah langkah monumental. Sebagai negara kecil yang bahkan lebih kecil dari Pulau Man, setiap poin di panggung dunia adalah pencapaian yang patut dirayakan.
Namun, di balik kegembiraan sepak bola, terselip narasi sejarah yang lebih dalam. Curacao adalah bekas koloni Belanda yang menjadi bagian dari jaringan perdagangan budak transatlantik. Pada abad ke-17, Belanda menguasai wilayah luas yang kini menjadi Indonesia, Afrika Selatan, Curacao, dan Papua Barat. Ribuan orang diperdagangkan dari Afrika ke koloni Belanda di Karibia dan Amerika Selatan—sekitar 5% dari total perdagangan budak Atlantik—sebelum praktik ini dihapus pada 1863.
Pada 2023, Raja Willem-Alexander secara resmi meminta maaf atas peran negaranya dalam perdagangan budak, mengaku merasa "terpengaruh secara pribadi dan intens." Momen Piala Dunia ini, dengan Curacao yang mayoritas penduduknya keturunan Afrika, menjadi pengingat akan hubungan rumit antara masa lalu kolonial dan identitas modern.
Bagi Indonesia, kisah ini memiliki resonansi tersendiri. Belanda juga pernah menjajah Nusantara selama berabad-abad, meninggalkan warisan budaya dan politik yang kompleks. Meski hubungan bilateral kini setara, luka kolonial masih terasa. Kehadiran Curacao di Piala Dunia—sebagai bagian dari Kerajaan Belanda namun dengan identitas sendiri—menggambarkan dinamika pascakolonial yang juga dialami Indonesia.
Ke depan, apakah Curacao mampu melangkah lebih jauh? Ataukah Belanda yang akan menjadi kuda hitam turnamen? Yang jelas, satu hari di Piala Dunia telah menyatukan dua bangsa dalam ikatan sejarah, olahraga, dan harapan.



