Gol Perdana di Piala Dunia, Ueda Ayase Pilih Tenang: Ini Makna di Balik Sikapnya
Baca dalam 60 detik
- Striker Jepang Ueda Ayase mencetak gol pertamanya di Piala Dunia 2026 saat melawan Tunisia, namun tidak merayakannya secara berlebihan.
- Alih-alih bersorak, ia memilih berdoa dengan tangan terkepal di depan wajah, sebuah ritual yang diakuinya sebagai cara untuk tetap tenang di panggung besar.
- Sikap ini mencerminkan kedewasaan mental seorang pemain yang menjadikan rutinitas sebagai kunci performa di turnamen paling bergengsi.

Striker tim nasional Jepang, Ayase Ueda, mencuri perhatian bukan hanya karena gol perdananya di Piala Dunia 2026, melainkan juga karena reaksinya yang tidak biasa. Saat bola hasil tendangan kaki kanannya dari luar kotak penalti menjebol gawang Tunisia pada laga kedua Grup F, Jumat (20/6) waktu setempat, Ueda tidak berlari histeris atau melakukan selebrasi spektakuler. Ia justru berdiri tenang, menangkupkan kedua tangan di depan wajah, dan berdoa.
Momen itu terjadi di Stadion Monterrey, Meksiko, ketika Jepang sudah unggul 1-0. Ueda yang menerima umpan di lini tengah bergerak cepat, melepaskan tembakan keras dari sisi kanan kotak penalti yang tak mampu dihalau kiper Tunisia. Gol tersebut menjadi gol pertamanya di ajang Piala Dunia, sebuah pencapaian yang biasanya dirayakan dengan euforia. Namun, Ueda memilih jalan berbeda.
Dalam wawancara sebelumnya, Ueda pernah mengungkapkan bahwa ia sengaja menambahkan ritual tersebut ke dalam permainannya. “Saya pikir akan baik jika saya memiliki rutinitas yang menenangkan,” ujarnya, seperti dikutip media Jepang. Sikap ini bukan sekadar ekspresi religius, melainkan bagian dari strategi mental untuk tetap fokus di tengah tekanan turnamen terbesar di dunia.
Bagi pemain berusia 27 tahun yang kini membela klub Belanda Feyenoord, konsistensi adalah segalanya. Sejak tiba di kamp latihan Jepang, ia menekankan pentingnya persiapan yang sama seperti biasanya, meskipun panggungnya jauh lebih besar. “Piala Dunia adalah sesuatu yang sangat istimewa. Tidak semuanya berjalan seperti biasa, tetapi justru karena itu saya berusaha melakukan persiapan seperti biasa untuk mengeluarkan kemampuan terbaik,” katanya kepada wartawan.
Pendekatan Ueda ini mengingatkan pada filosofi “kaizen” atau perbaikan berkelanjutan yang sering dikaitkan dengan budaya Jepang. Di tengah hiruk-pikuk stadion yang dipenuhi puluhan ribu suporter, ia memilih untuk tidak larut dalam emosi sesaat. Keputusan itu justru menunjukkan kedewasaan dan pengendalian diri yang langka pada pemain seusianya.
Bagi pengamat sepak bola, sikap seperti ini bisa menjadi contoh bagi pemain muda Indonesia yang kerap terbawa euforia setelah mencetak gol. Di level internasional, keseimbangan mental sering kali menjadi pembeda antara pemain biasa dan pemain besar. Ueda membuktikan bahwa selebrasi tidak harus heboh; yang terpenting adalah bagaimana pemain kembali fokus untuk pertandingan selanjutnya.
Jepang sendiri masih memiliki satu laga tersisa di fase grup. Jika konsisten, bukan tidak mungkin Ueda akan kembali menunjukkan ritualnya—dan gol-gol lain—di babak knockout. Pertanyaannya, akankah pendekatan tenang ini menjadi tren baru di sepak bola modern yang cenderung penuh dengan drama?



