Andy Murray Kembali ke Tenis sebagai Mentor Jack Draper: Bisakah Ia Meniru Comeback Serena Williams?
Baca dalam 60 detik
- Andy Murray bergabung dengan tim kepelatihan Jack Draper untuk musim lapangan rumput, mengejutkan banyak pihak karena sebelumnya ia menolak tawaran melatih.
- Murray mengaku tidak berniat kembali bermain di usia 44 tahun seperti Serena Williams, karena fisiknya tidak memungkinkan dan ia belum merindukan kompetisi.
- Kemitraan ini diharapkan jangka panjang, dengan fokus memulihkan konsistensi Draper yang kerap diganggu cedera.

Dua tahun setelah gantung raket, Andy Murray kembali ke dunia tenis—bukan sebagai pemain, melainkan sebagai pelatih super untuk rekan senegaranya, Jack Draper. Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Murray sebelumnya menolak sejumlah tawaran melatih demi fokus pada keluarga dan bisnis.
Dalam wawancara eksklusif dengan BBC Sport, Murray mengungkapkan bahwa ia tidak berniat kembali ke sirkuit setelah berhenti bekerja sama dengan Novak Djokovic setahun lalu. Namun, ajakan dari Draper—yang sejak kecil mengidolakannya—membuatnya berubah pikiran. “Saya pikir-pikir, bicara dengan istri, lalu bilang ke Jack bahwa saya ingin membantu,” ujar Murray. Kini, ia menjalani peran mirip dengan yang dulu dilakukan Ivan Lendl padanya: menjadi mentor yang membimbing Draper melewati masa-masa sulit.
Draper, yang pernah menempati peringkat empat dunia, tengah berjuang pulih dari serangkaian cedera. Pekan ini ia akan memulai comeback di turnamen Eastbourne, sebagai batu loncatan menuju Wimbledon. Murray, yang juga mengalami masalah fisik di awal kariernya, optimistis Draper bisa kembali ke puncak. “Dia pemain brilian. Begitu kembali ke lapangan, dia akan menang di level tertinggi,” kata Murray. Namun, ia menekankan bahwa prioritas saat ini adalah memulihkan konsistensi Draper agar bisa bersaing secara reguler.
Menariknya, Murray juga angkat bicara soal comeback Serena Williams yang akan tampil di Wimbledon tahun ini—awalnya di ganda, dengan kemungkinan bermain tunggal. Murray mengaku tidak terkejut. “Dia bilang ke saya di Miami Open tahun lalu, ‘Saya merindukan kompetisi setiap hari. Jika bisa, saya akan kembali ke sana’,” kenang Murray. Namun, ketika ditanya apakah ia sendiri berniat comeback di usia 44 tahun seperti Serena, Murray tertawa. “Saya tidak akan mampu secara fisik. Saya belum cukup merindukan tenis untuk kembali berlatih,” katanya.
Di luar tenis, Murray mengisi waktu dengan berbagai aktivitas: berburu golf hingga menjadi pemain scratch, bermain padel, mengajari catur putranya yang berusia enam tahun, hingga mengelola hotel mewah di dekat kampung halamannya, Dunblane. Ia mengaku mengikuti saran untuk mencoba banyak hal baru setelah pensiun. “Seluruh hidup saya sejak 14 atau 15 tahun hanya tenis. Sekarang saya coba lihat apa yang saya suka dan kuasai,” ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kembalinya Murray ke pinggir lapangan menjadi pengingat bahwa transisi dari pemain ke pelatih bisa menjadi jalan baru yang menarik. Draper, dengan potensi besarnya, bisa menjadi proyek jangka panjang Murray—mirip dengan bagaimana Lendl membentuk Murray menjadi juara Grand Slam. Pertanyaannya, bisakah Draper mewujudkan potensi itu di tengah badai cedera? Atau akankah Murray justru tergoda untuk kembali berkompetisi seperti Serena? Hanya waktu yang akan menjawab.



