Lebih dari Separuh Pelajar SMP Jepang Mampu Berbahasa Inggris: Capaian atau Masih Jauh dari Target?
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 54,6% siswa kelas 3 SMP di Jepang mencapai level bahasa Inggris setara Eiken Grade 3, naik tipis dari tahun sebelumnya.
- Pemerintah Jepang menargetkan 60% siswa SMP menguasai level tersebut pada 2027, namun kesenjangan antar daerah masih lebar.
- Interaksi dengan asisten guru penutur asli (ALT) disebut sebagai faktor pendorong utama peningkatan kemampuan siswa.

Lebih dari separuh siswa kelas tiga sekolah menengah pertama (SMP) negeri di Jepang kini memiliki kemampuan bahasa Inggris yang setara dengan level Eiken Grade 3—sebuah tolok ukur yang memungkinkan mereka bercakap-cakap tentang topik sehari-hari. Angka ini mencapai 54,6 persen berdasarkan survei terbaru Kementerian Pendidikan, Budaya, Olahraga, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi Jepang (MEXT), yang dirilis Kamis (19/6). Meskipun menunjukkan tren positif, capaian tersebut masih di bawah target nasional yang dicanangkan pemerintah.
Survei yang sama juga mengungkap bahwa 52,4 persen siswa SMP kelas tiga telah mencapai level Eiken Grade Pre-2, sedikit meningkat 0,8 poin dari tahun sebelumnya. Sementara itu, proporsi siswa yang meraih level Eiken Grade 2 atau lebih tinggi melonjak 2,7 poin menjadi 23,9 persen. Eiken Grade 3 setara dengan level A1 dalam Kerangka Acuan Umum Eropa untuk Bahasa (CEFR), sedangkan Grade Pre-2 setara A2. CEFR sendiri merupakan standar internasional yang mengukur kemampuan bahasa dalam enam tingkat, dengan A1 sebagai level pemula.
Kementerian Pendidikan Jepang mengaitkan peningkatan ini dengan interaksi siswa di luar jam pelajaran bersama asisten guru bahasa asing (ALT). Para ALT adalah penutur asli yang bertugas mendampingi pengajaran di kelas, meskipun bukan pengajar utama. Kehadiran mereka dinilai memberikan paparan langsung terhadap bahasa Inggris otentik, yang sulit diperoleh dari buku teks semata.
Pemerintah Jepang, melalui rencana dasar promosi pendidikan, telah menetapkan target ambisius: lebih dari 60 persen siswa harus mencapai kemampuan setara Eiken Grade 3 atau lebih tinggi saat menyelesaikan SMP pada tahun fiskal 2027. Untuk tingkat SMA, targetnya adalah Grade Pre-2 atau lebih tinggi. Namun, dengan angka saat ini yang baru mencapai 54,6 persen, masih diperlukan akselerasi signifikan dalam tiga tahun ke depan.
Kesenjangan antar daerah masih menjadi tantangan serius. Prefektur Saitama mencatat persentase tertinggi siswa SMP dengan Grade 3 atau lebih, yakni 88,9 persen, disusul Fukui (84,6 persen) dan Yokohama (71,6 persen). Di sisi lain, beberapa kota dan kabupaten mencatat angka di bawah 40 persen. Seorang pejabat MEXT menyatakan bahwa pemerintah berencana membagikan praktik baik dari daerah berprestasi untuk membantu daerah lain meningkatkan level kemampuan bahasa Inggris.
Bagi Indonesia, pencapaian Jepang ini bisa menjadi cermin sekaligus pelajaran. Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam meningkatkan kompetensi bahasa Inggris di kalangan pelajar, terutama di daerah terpencil. Model penggunaan ALT di Jepang—yang memberikan paparan langsung dengan penutur asli—dapat diadaptasi, meskipun biaya dan ketersediaan sumber daya menjadi kendala. Selain itu, target ambisius Jepang menunjukkan bahwa perbaikan kemampuan bahasa asing memerlukan waktu dan strategi komprehensif, bukan sekadar perubahan kurikulum.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Jepang mengejar target 60 persen pada 2027? Ataukah kesenjangan regional akan semakin melebar? Jawabannya bergantung pada seberapa efektif pemerintah mendistribusikan sumber daya dan mengadopsi praktik terbaik dari daerah unggulan seperti Saitama dan Fukui.



