Van der Sar dan Winter Bernostalgia: '94 Jadi Fondasi Sepak Bola Belanda di Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Edwin van der Sar dan Aron Winter, legenda Belanda, mengenang pengalaman mereka di Piala Dunia 1994 di AS yang menjadi fondasi bagi generasi emas Oranje.
- Winter, kini anggota FIFA Technical Study Group, menganalisis tren sepak bola modern di Piala Dunia 2026, termasuk laga krusial Belanda vs Swedia.
- Kenangan melawan Brasil di perempat final 1994 dan 1998 masih membekas, dengan harapan terulangnya duel klasik di turnamen edisi kali ini.

Dua legenda sepak bola Belanda, Edwin van der Sar dan Aron Winter, kembali bernostalgia ke masa kejayaan Oranje di Piala Dunia 1994 saat mereka menjadi bintang tamu di FIFA Podcast. Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara, kedua mantan pemain timnas itu tidak hanya menyaksikan laga dari tribun, tetapi juga berbagi cerita tentang pengalaman pertama mereka bermain di turnamen terbesar dunia di tanah Amerika tiga dekade lalu.
Winter, yang kini berusia 59 tahun, dan Van der Sar, 55 tahun, merupakan bagian dari skuad asuhan Dick Advocaat pada Piala Dunia 1994. Saat itu, Winter menjadi starter reguler, sementara Van der Sar masih menjadi kiper cadangan di bawah Ed de Goey. Keduanya bahkan pernah menjadi teman sekamar. Dalam perbincangan dengan Mikaël Silvestre, mereka mengingat betapa terkejutnya dengan penyelenggaraan turnamen yang sangat rapi. "Kami sangat senang berada di sini pada '94. Semuanya tertata indah, lapangan bagus, fasilitas luar biasa. Kami tidak memulai dengan baik, tapi akhirnya lolos ke babak berikutnya dan sedikit kurang beruntung di perempat final melawan Brasil," kenang Winter.
Brasil memang menjadi momok bagi Belanda di era itu. Selain di 1994, Oranje kembali bertemu Brasil di semifinal 1998 yang berakhir dengan kekalahan adu penalti. Van der Sar menyebut nama-nama besar seperti Ronald Koeman (kini pelatih Belanda), Frank Rijkaard, Dennis Bergkamp, dan Frank de Boer sebagai pilar tim. Bagi Van der Sar, Piala Dunia 1994 menjadi ajang pembelajaran berharga sebelum ia menjadi kiper utama empat tahun kemudian. "Saya belum pernah ke Amerika sebelumnya. Panas, kelembaban, jauh dari rumah... Kami tinggal di resor golf di Orlando, ada lapangan khusus untuk latihan," ujarnya.
Pertandingan perempat final 1994 di Cotton Bowl, Dallas, menjadi salah satu laga klasik. Brasil unggul 2-0 lewat Romario dan Bebeto, sebelum Bergkamp dan Winter menyamakan kedudukan. Namun, tendangan jarak jauh Branco memastikan kemenangan bagi Brasil yang akhirnya menjadi juara. Van der Sar memuji keanggunan Bergkamp: "Saya rasa dia tidak pernah mencetak gol jelek." Winter menambahkan, "Memiliki pemain seperti Bergkamp yang cerdas, elegan, dan bisa menentukan pertandingan adalah anugerah."
Bicara soal striker, keduanya juga mengomentari Ronaldo Nazário yang menjadi mimpi buruk Belanda di 1998. "Di dalam kotak penalti, sembilan dari sepuluh kali itu gol. Anda tidak pernah tahu ke sisi mana dia akan bergerak, kanan atau kiri, keduanya sama baiknya," kenang Winter. Van der Sar menambahkan, "Teknik, lari, kecepatan, perubahan arahnya membuatnya jadi salah satu striker terbaik."
Saat ini, Winter berada di Amerika Utara sebagai anggota FIFA Technical Study Group. Ia menikmati pengalaman menganalisis pertandingan dari berbagai sudut pandang. "Kami menonton semua pertandingan, memberikan keahlian tentang permainan bersama tim analis. Ada suite khusus untuk melihat pertandingan dari sudut berbeda," jelasnya. Winter juga menyoroti laga Belanda vs Swedia yang akan datang. Menurutnya, Belanda perlu tampil lebih agresif setelah hanya bermain imbang 2-2 melawan Jepang. "Saya ingin melihat sedikit lebih banyak kekacauan dari Belanda, terutama dari pemain belakang seperti Denzel Dumfries yang seharusnya lebih sering maju," ujarnya.
Menghadapi Swedia yang memiliki dua striker muda berbakat, Viktor Gyökeres (Arsenal) dan Alexander Isak (Liverpool), Winter optimistis. "Kami punya kualitas, energi, dan kekuatan untuk meraih kemenangan. Ini menarik karena jika kami finis pertama atau kedua di grup, kemungkinan akan bertemu Maroko atau Brasil," katanya. Sebuah duel Belanda vs Brasil lainnya? Itu akan menjadi sesuatu yang spektakuler.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, nostalgia Van der Sar dan Winter mengingatkan pada era keemasan Belanda yang penuh dengan pemain bintang. Piala Dunia 2026 juga menjadi ajang bagi generasi baru Oranje untuk membuktikan diri, sekaligus membawa harapan bahwa kenangan pahit melawan Brasil bisa terbalas.



