China Sambut Baik Kesepakatan Iran-AS: Dorong Negosiasi Fase Kedua
Baca dalam 60 detik
- Beijing secara resmi menyambut penandatanganan perjanjian gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah.
- China mendesak semua pihak, termasuk Israel, untuk menghormati komitmen dan mendukung kelancaran negosiasi tahap kedua yang dijadwalkan berlangsung 60 hari.
- Kesepakatan ini berpotensi meredakan ketegangan global dan membuka peluang diplomasi baru yang relevan bagi stabilitas kawasan, termasuk dampaknya terhadap Indonesia.

China secara resmi menyambut baik penandatanganan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang bertujuan mengakhiri perang di Timur Tengah, seraya mendesak kedua negara untuk melanjutkan kerja sama dalam putaran negosiasi kedua. Pernyataan ini disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin di Beijing, Kamis (18/6).
Kesepakatan yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dan mitranya dari Iran pada Rabu lalu tersebut akan diresmikan dalam sebuah upacara di Swiss pada Jumat pekan ini. Perjanjian itu memuat penghentian pertempuran di semua lini, termasuk di Lebanon, serta membuka babak baru negosiasi selama 60 hari ke depan.
"China menyambut baik perkembangan ini dan berharap semua pihak terkait, termasuk AS dan Iran, dapat menjunjung tinggi semangat kesepakatan serta memenuhi komitmen mereka dengan sungguh-sungguh," ujar Lin Jian. Ia juga mendorong Washington dan Teheran untuk saling bertemu di tengah jalan dalam tahap perundingan berikutnya dan mempertahankan sikap rasional.
Meskipun kekerasan di Lebanon menurun setelah pengumuman kesepakatan, serangan Israel di selatan Lebanon masih menewaskan sedikitnya lima orang sejak perjanjian diumumkan. Laporan media Lebanon juga menyebutkan adanya serangan udara Israel di wilayah tersebut pada Rabu lalu. Menanggapi hal ini, China mendesak "semua pihak terkait, termasuk Israel, untuk menyesuaikan diri dengan situasi keseluruhan perdamaian dan stabilitas regional".
Lin Jian menekankan bahwa semua pihak harus "melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi implementasi" fase pertama kesepakatan dan kemajuan negosiasi fase kedua, "bukan sebaliknya". Pernyataan ini mengindikasikan kekhawatiran Beijing terhadap potensi gangguan dari pihak-pihak yang tidak mendukung proses perdamaian.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, Indonesia berkepentingan langsung terhadap stabilitas Timur Tengah. Kesepakatan ini dapat meredakan ketegangan yang selama ini mempengaruhi harga energi global dan arus perdagangan melalui Selat Hormuz. Selain itu, Indonesia juga memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Iran dan Arab Saudi, sehingga dapat berperan sebagai mediator potensial dalam proses rekonsiliasi kawasan.
Lebanon, yang menjadi salah satu medan pertempuran, ditarik ke dalam konflik ketika Hizbullah yang didukung Iran menembakkan roket ke Israel pada 2 Maret lalu sebagai bentuk dukungan terhadap Iran. Israel kemudian merespons dengan serangan udara besar-besaran dan invasi darat, yang hingga kini masih menyisakan pendudukan di wilayah perbatasan Lebanon. Kesepakatan ini diharapkan dapat mengakhiri pendudukan tersebut dan memulihkan kedaulatan Lebanon.
Ke depan, pertanyaan krusial adalah apakah fase kedua negosiasi mampu menyelesaikan akar konflik, termasuk program nuklir Iran dan pengaruh regionalnya. China, sebagai salah satu kekuatan besar yang memiliki hubungan erat dengan Iran, diperkirakan akan terus mendorong dialog dan menekan semua pihak untuk menahan diri. Bagi Indonesia, momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi perdamaian dan melindungi kepentingan nasional di tengah dinamika geopolitik yang berubah.



