Gravina Buka Suara: Italia Hampir Kehilangan Euro 2032, Tolak Kembalinya Mancini
Baca dalam 60 detik
- FIGC mengakui Italia bisa kehilangan hak tuan rumah Euro 2032 jika bersaing langsung dengan Turki.
- Gravina menolak tawaran Roberto Mancini untuk kembali menukangi timnas, menyusul kekalahan dari Bosnia.
- Pemilihan presiden FIGC pekan depan akan menentukan arah baru sepak bola Italia pasca-Gravina.

Ketua Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) yang akan segera lengser, Gabriele Gravina, mengungkapkan bahwa Italia hampir pasti kehilangan hak tuan rumah Euro 2032 jika harus bersaing langsung dengan Turki. Dalam pernyataan yang dirilis menjelang pemilihan presiden FIGC, Gravina juga mengonfirmasi bahwa ia menolak rencana kembalinya Roberto Mancini sebagai pelatih timnas, serta menyesalkan pengunduran diri Gennaro Gattuso setelah kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina.
Gravina, yang masa jabatannya akan resmi berakhir pada 22 Juni mendatang, menilai bahwa persaingan dengan Turki dalam perebutan tuan rumah Euro 2032 sangat ketat. Menurutnya, jika UEFA memilih secara terpisah, Italia bisa kalah. โKami pasti akan kehilangan hak tuan rumah jika harus berhadapan langsung dengan Turki,โ ujarnya, seperti dikutip Football Italia. Keputusan UEFA untuk memberikan tuan rumah bersama kepada Italia dan Turki dianggap sebagai solusi diplomatis yang menyelamatkan muka kedua negara.
Di sisi lain, Gravina mengungkapkan bahwa ia sempat menolak tawaran Roberto Mancini untuk kembali menangani timnas Italia. Mancini, yang sukses membawa Italia juara Euro 2020, meninggalkan posisinya pada 2023 setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2022. Namun, upayanya untuk kembali kandas karena Gravina menilai saat ini bukan waktu yang tepat. โSaya menolak tawaran Mancini. Kami perlu stabilitas dan arah baru,โ tegas Gravina.
Kekalahan Italia dari Bosnia dan Herzegovina dalam laga persahabatan juga menjadi sorotan. Gravina menyesalkan keputusan Gennaro Gattuso yang mengundurkan diri sebagai pelatih timnas U-21 setelah hasil buruk tersebut. Menurut Gravina, pengunduran diri itu terlalu dini dan tidak perlu. โGattuso seharusnya tidak mundur. Dia masih punya masa depan di federasi,โ katanya.
Bagi Indonesia, dinamika sepak bola Italia ini menjadi pelajaran tentang pentingnya diplomasi dalam merebut even besar. Model tuan rumah bersama seperti yang dilakukan Italia dan Turki bisa menjadi alternatif bagi negara-negara ASEAN yang ingin menggelar Piala Asia atau Piala Dunia. Selain itu, kisruh internal FIGC mengingatkan bahwa stabilitas federasi sangat menentukan prestasi timnas.
Pemilihan presiden FIGC pekan depan akan menjadi titik balik. Siapa pun yang terpilih harus mampu menyelesaikan masalah internal dan mempersiapkan timnas menuju Euro 2032. Pertanyaan besarnya: akankah figur baru mampu membawa Italia kembali ke puncak, atau justru terjerumus dalam krisis berkepanjangan?



