Loyalitas Berakhir: Yusuf Meilana Akhirnya Tinggalkan Persik Setelah Sembilan Tahun
Baca dalam 60 detik
- Yusuf Meilana hengkang dari Persik Kediri ke Persebaya setelah sembilan musim membela klub asal kota kelahirannya.
- Legenda Persik menilai kepindahan itu terlambat; rekan seangkatan seperti Edo Febriansyah sudah lebih dulu meraih kesuksesan dan panggilan timnas.
- Keputusan ini mencerminkan pergeseran sepak bola Indonesia dari loyalitas ke profesionalisme, di mana pemain lokal harus berani keluar zona nyaman.

Setelah hampir satu dekade menjadi ikon loyalitas di Persik Kediri, bek kiri Yusuf Meilana akhirnya memutuskan mengakhiri pengabdiannya. Pemain asli Kediri itu resmi bergabung dengan Persebaya Surabaya untuk kompetisi BRI Super League musim 2026/2027. Kepindahan ini menandai babak baru dalam kariernya yang selama ini identik dengan satu klub.
Yusuf merupakan salah satu pilar penting saat Persik dua kali beruntun meraih gelar juara Liga 3 2018 dan Liga 2 2019, sekaligus promosi ke kasta tertinggi. Prestasi itu membuat namanya dilirik banyak klub, namun ia selalu memilih bertahan. Namun, era sepak bola modern menuntut pemain untuk terus bergerak. Manajemen Persik pun mulai melakukan regenerasi, dan Yusuf harus menerima kenyataan bahwa waktunya di klub kelahiran telah usai.
Keputusan Yusuf untuk bertahan terlalu lama di Persik mendapat sorotan dari legenda klub, Wawan Widiantoro. Menurutnya, Yusuf seharusnya lebih awal meninggalkan Kediri saat masih muda, seperti yang dilakukan rekan seangkatannya, Edo Febriansyah dan Septian Satria Bagaskara. Kedua pemain itu kini telah merasakan atmosfer klub besar dan bahkan menembus Timnas Indonesia. "Dengan potensi yang dimiliki, Yusuf seharusnya bisa sukses seperti mereka. Tapi dia masih beruntung bisa bergabung dengan klub besar seperti Persebaya," ujar Wawan.
Fenomena ini mencerminkan perubahan wajah sepak bola Indonesia. Loyalitas pemain terhadap satu klub mulai tergerus oleh tuntutan profesionalisme. Dengan membanjirnya pemain asing di liga domestik, pemain lokal dituntut memiliki kualitas di atas rata-rata agar tidak tersingkir. Wawan menekankan bahwa pemain sekarang harus berani menjual kualitas dan tidak terpaku pada loyalitas semata. "Sepak bola sekarang lebih profesional. Artinya pemain menjual kualitas. Saat ini loyalitas nomor sekian di bawah profesionalisme," tegasnya.
Bagi Yusuf, langkah ke Persebaya bisa menjadi titik balik. Di usia yang tidak lagi muda, ia masih memiliki kesempatan untuk membuktikan diri di klub besar. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah ia bisa beradaptasi dan bersaing di lingkungan yang lebih kompetitif. Kepindahan ini juga menjadi pelajaran bagi pemain muda lainnya: berani keluar dari zona nyaman bisa membuka pintu menuju kesuksesan yang lebih besar.



