Amy Pu, Wasit Profesional Perempuan Pertama di Inggris: 'Mereka Boleh Mengkritik Saya sebagai Wasit, Bukan karena Gender atau Ras'
Baca dalam 60 detik
- Amy Pu, wasit kelahiran Taiwan, menjadi perempuan pertama yang memimpin pertarungan tinju profesional di Inggris pada Maret 2024.
- Ia menghadapi tekanan ganda sebagai minoritas gender dan etnis, namun mengaku belum menerima kritik berbasis diskriminasi.
- Pu bercita-cita memimpin pertarungan perebutan gelar dunia, sekaligus menjadi inspirasi bagi gadis muda untuk berkarier di tinju.

Amy Pu, wasit profesional perempuan pertama dalam sejarah tinju Inggris, menegaskan bahwa dirinya ingin dinilai berdasarkan kemampuan, bukan jenis kelamin atau latar belakang etnis. "Mereka boleh mengkritik saya sebagai wasit, bukan sebagai wasit perempuan Asia," ujarnya kepada BBC Sport.
Perempuan kelahiran Taiwan itu memulai debut profesionalnya di York Hall, London, pada Maret 2024, memimpin pertarungan Marcus Eaton melawan Paul Scaife. Sebelumnya, tidak ada perempuan yang pernah menjadi wasit tinju profesional di Inggris. Pu sendiri sempat ragu karena khawatir dengan reaksi penonton yang berbeda dari amatir. "Saya pikir, 'Apakah ini akan lebih buruk daripada di amatir?"" kenangnya.
Pu mengaku mendapat dukungan luas sejak beralih ke profesional. Namun, ia tetap merasakan beban tanggung jawab ekstra. "Saya tidak ingin orang punya alasan untuk berkata, 'Dia tidak bagus karena dia perempuan,'" tegasnya. Ia juga menyadari bahwa wajah Asia Timur di atas ring mungkin mengejutkan sebagian orang, sehingga ia bertekad tampil dengan standar tinggi.
Perjalanan Pu dimulai dari hobi. Setelah pindah ke London pada 2004 untuk studi, ia mulai berlatih tinju untuk kebugaran. Hobi itu berkembang menjadi kompetisi amatir, lalu menjadi juri, dan akhirnya wasit pada 2018. Keluarganya yang tradisional awalnya khawatir akan keselamatan dan potensi rasisme. "Mereka bangga, tapi sebagai ibu, dia bertanya apakah ini berbahaya. Saya jawab, 'Mereka tidak memukul saya, mereka saling memukul!"" cerita Pu.
Meski belum ada wasit perempuan lain di Inggris, Pu tidak sendirian di kancah global. Wasit perempuan telah memimpin pertarungan di berbagai negara, namun Inggris tertinggal hingga Pu memecahkan kebuntuan. Ia juga pernah menjadi wasit di undercard pertarungan Oleksandr Usyk melawan Daniel Dubois di Stadion Wembley tahun lalu.
Bagi Indonesia, kisah Pu relevan mengingat tinju profesional di Tanah Air juga didominasi pria. Meski beberapa wasit perempuan telah bertugas di level amatir, belum ada yang menembus ring profesional. Kehadiran Pu bisa menjadi dorongan bagi otoritas tinju Indonesia untuk membuka peluang serupa. "Saya berharap gadis-gadis muda melihat ada wasit perempuan di ring dan berpikir, 'Oh, ternyata saya bisa menjadi itu,'" kata Pu.
Ambisi Pu tidak berhenti sebagai perintis. Ia membidik pertarungan perebutan gelar dunia, baik di Wembley maupun di MGM Grand Las Vegas. "Siapa tahu? Bermimpilah besar, kan?" ujarnya. Dengan tekad dan prestasi yang telah diraih, bukan tidak mungkin target itu tercapai.



