Diskusi Pancasila di UGM Ricuh: Mahasiswa Bubarkan Acara, Pejabat Dievakuasi
Baca dalam 60 detik
- Mahasiswa UGM membubarkan diskusi 'Pancasila Pemersatu Bangsa' yang dihadiri tiga pejabat, menuntut konsistensi nilai Pancasila di tengah kebijakan pemerintah yang dinilai represif.
- Aksi dipicu oleh ketidakpuasan terhadap pengabaian suara kritis dan kriminalisasi, dengan SEMA UGM menegaskan Pancasila bukan sekadar retorika seremonial.
- Pejabat yang hadir, termasuk Budiman Sudjatmiko, menyayangkan penghentian dialog, sementara Wakil Menteri Pertanian Sudaryono membantah tudingan menghindari diskusi.

Diskusi bertajuk 'Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia' yang digelar di Grha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta, Senin (15/6) malam berakhir ricuh setelah sekelompok mahasiswa mengambil alih panggung dan memaksa acara dihentikan. Aksi ini dipicu oleh kemarahan atas apa yang mereka sebut sebagai kemunafikan pejabat yang membahas Pancasila di tengah kebijakan yang dianggap meredam kritik dan mengabaikan kesejahteraan rakyat.
Acara yang diinisiasi oleh 'Kopdar Bareng Mas Dar' itu menghadirkan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi yang tercantum dalam poster tidak hadir. Sekitar 30-40 menit diskusi berlangsung, sekelompok mahasiswa bergerak ke depan panggung, menyalakan sirine dari megafon, dan memaksa forum bubar. Budiman yang tengah berbicara langsung menjadi sasaran protes.
Senat Mahasiswa (SEMA) UGM dalam pernyataan resmi menegaskan bahwa tindakan mereka adalah bentuk perlawanan terhadap penggunaan Pancasila sebagai alat legitimasi. "Di tengah kekacauan akibat salah urus negara, pejabat berbicara Pancasila. Pancasila mana yang kalian maksud?" tulis SEMA melalui Instagram, Rabu (17/6). Mereka menuding pemerintah membungkam suara rakyat, mengkriminalisasi kritik, dan gagal mewujudkan keadilan serta kesejahteraan. "Jika pemerintah terus merampas keadilan dan membiarkan rakyat kelaparan, jangan salahkan jika kesabaran habis," tambah mereka.
Budiman Sudjatmiko, yang pada era reformasi dikenal sebagai aktivis pro-demokrasi, menyesalkan penghentian forum. "Seharusnya kita bisa berdialog dengan sehat. Saya mau berdiskusi dengan mahasiswa, tapi kondisinya sudah tidak kondusif," ujarnya. Ia mengaku tidak keberatan menemui mahasiswa, namun petugas keamanan memutuskan mengevakuasi dirinya dan pejabat lain demi keamanan. Sementara itu, Sudaryono membantah tudingan bahwa mereka menghindari dialog. "Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Saat mobil dicegat, kami keluar dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," katanya. Ia juga melaporkan adanya pelemparan air dan dugaan tindakan fisik terhadapnya.
Insiden ini mencerminkan ketegangan antara pemerintah dan mahasiswa yang kian memanas. SEMA UGM secara eksplisit mempertanyakan orientasi rezim: apakah melayani cita-cita Pancasila atau sekadar ambisi kekuasaan. Aksi ini juga menjadi pengingat bahwa retorika Pancasila tanpa implementasi kebijakan yang berpihak pada rakyat hanya akan memicu perlawanan. Ke depan, pertanyaan mendasar tetap menggantung: akankah pemerintah membuka ruang dialog yang lebih substantif, atau justru semakin memperketat ruang kritik?



