Ukraine Bangkit sebagai Middle Power: Ambisi Putin Gagal Total
Baca dalam 60 detik
- Invasi Rusia ke Ukraina sejak 2022 justru memperkuat posisi Ukraina sebagai kekuatan menengah di Eropa, sementara Rusia mengalami kemunduran militer dan diplomatik.
- Rusia, yang ekonominya hanya setara Korea Selatan, gagal mempertahankan status great power dan kini bergantung pada China sebagai penyandang dana perang.
- Pergeseran tatanan global menuju multipolaritas memberi ruang bagi negara-negara middle power seperti Ukraina untuk memainkan peran lebih besar, termasuk dalam diplomasi drone dan integrasi Eropa.

Invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina yang dilancarkan pada Februari 2022 tidak hanya gagal menundukkan Kyiv, tetapi justru melahirkan kebangkitan Ukraina sebagai kekuatan menengah (middle power) di panggung Eropa. Ambisi Presiden Vladimir Putin untuk mengembalikan kejayaan Rusia sebagai great power berubah menjadi bumerang: Moskow kini terpuruk dalam perang yang menguras sumber daya, sementara Ukraina menjelma menjadi poros baru diplomasi dan industri pertahanan kawasan.
Analis hubungan internasional menilai bahwa konflik ini sama sekali bukan perang antar great power, melainkan pertarungan antara dua kekuatan menengah. Rusia, sejak runtuhnya Uni Soviet pada 1991, tidak lagi memiliki kapasitas ekonomi dan militer yang sepadan dengan klaimnya sebagai adidaya. Produk domestik bruto (PDB) Rusia saat ini hanya sedikit di atas Korea Selatan dan lebih kecil dari Kanada atau Brasil. Meski memiliki 1,1 juta personel aktif, Moskow harus menggelontorkan 7,5 persen PDB—setara 190 miliar dolar AS—pada 2025 untuk mempertahankan militernya. Sebagai perbandingan, belanja pertahanan negara-negara NATO Eropa yang kerap dikritik karena dianggap kurang mencapai 559 miliar dolar AS, hampir tiga kali lipat anggaran Rusia.
Ukraina, yang hanya memiliki sekitar 880.000 personel aktif, berhasil mempertahankan 80 persen wilayahnya di tengah gempuran Rusia. Garis depan yang nyaris statis selama berbulan-bulan menunjukkan kegagalan strategi militer Kremlin. Moskow bahkan kini mengandalkan serangan udara terhadap warga sipil—sebuah taktik putus asa yang jarang berhasil dalam sejarah. Di sisi diplomatik, pengaruh Rusia terus menyusut: sekutu-sekutu lamanya seperti Suriah, Venezuela, dan Hungaria mulai menjauh, sementara Eropa—yang dulu menjadi pasar utama gas Rusia—kini bersikap bermusuhan dalam jangka panjang.
Di tengah kemunduran Rusia, Ukraina justru melesat. Negara yang semula dipandang sebagai kekuatan pinggiran Eropa kini menjadi pusat diplomasi dan industri militer kawasan. Produksi drone Ukraina telah mencapai level terdepan di dunia. Presiden Volodymyr Zelensky baru saja menyelesaikan rangkaian "diplomasi drone" di Timur Tengah yang menghasilkan kesepakatan jangka panjang dengan tiga negara. Ukraina juga mengambil langkah penting menuju integrasi ke Uni Eropa, memperkuat perannya dalam proses penegasan diri Eropa.
Baik Amerika Serikat maupun China tidak menginginkan perang besar di Eropa. China, yang menjadi "enabler penentu" perang Rusia dengan membeli energi murah dan mengisi pasar yang ditinggalkan Barat, tetap berhati-hati untuk tidak mengirim senjata ke Moskow. Beijing bahkan tidak menjatuhkan sanksi ke Ukraina, yang justru bergantung pada komponen China untuk industri dronenya. Sementara itu, AS di bawah pemerintahan Biden dan Trump menunjukkan keraguan dalam mendukung Ukraina. Bantuan yang diberikan kerap disertai syarat dan penundaan, mencerminkan kekhawatiran akan eskalasi dengan Rusia.
Konflik ini menjadi cermin pergeseran tatanan global dari dominasi AS menuju dunia multipolar. Negara-negara middle power seperti Australia, Kanada, dan kini Ukraina mulai memainkan peran yang lebih signifikan. Presiden AS Donald Trump, yang belum sepenuhnya memahami dinamika ini, mungkin akan menemukan bahwa pengaruhnya dalam perundingan Ukraina tidak sebesar yang dibayangkan. Pertanyaannya kini: mampukah Ukraina mempertahankan momentum ini tanpa bergantung penuh pada dukungan eksternal?



