Ricky Nelson Tinggalkan Persija, Arsitek Baru Persis Solo di Championship
Baca dalam 60 detik
- Persija Jakarta resmi melepas Ricky Nelson dari jabatan Direktur Akademi dan asisten pelatih per 15 Juni 2026.
- Selama dua tahun, Nelson membawa Akademi Persija meraih predikat Best Academy dua musim beruntun dan gelar EPA U-20 perdana.
- Nelson kini bergabung dengan Persis Solo yang berlaga di Championship, dengan target promosi ke Super League.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215188/original/033174500_1746795919-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-6.jpg)
Persija Jakarta secara resmi mengumumkan perpisahan dengan Ricky Nelson, yang selama dua tahun terakhir menjabat sebagai Direktur Akademi sekaligus asisten pelatih tim utama. Keputusan ini diumumkan melalui akun Instagram resmi klub pada Senin, 15 Juni 2026.
Ricky Nelson bergabung dengan Macan Kemayoran pada 2024, menggantikan Ganesha Putera yang hengkang ke Persebaya Surabaya. Selain mengelola akademi, ia juga dipercaya menjadi asisten pelatih di era Carlos Pena (2024/2025) dan Mauricio Souza (2025/2026). Perannya yang ganda membuatnya menjadi figur sentral dalam pengembangan pemain muda dan jembatan antara akademi dengan tim senior.
Di bawah kepemimpinannya, Akademi Persija mencatatkan prestasi gemilang. Klub berjuluk Macan Kemayoran itu meraih penghargaan Akademi Terbaik pada musim 2024/2025 dan 2025/2026. Lebih dari itu, tim U-20 Persija untuk pertama kalinya dalam sejarah menjuarai Elite Pro Academy (EPA) Super League. Prestasi ini menjadi bukti nyata efektivitas program pembinaan yang dirancang Nelson.
Persija mengapresiasi dedikasi Nelson melalui pernyataan resmi. "Terima kasih, Coach Ricky Nelson! Terima kasih atas dedikasi dan pengabdian selama membangun Persija Development, mengembangkan talenta-talenta muda, serta memberikan kontribusi penting untuk tim utama," tulis klub. Mereka juga menyoroti perannya dalam meraih penghargaan akademi dan gelar EPA U-20 yang bersejarah.
Kepergian Nelson sebenarnya sudah terendus sejak beberapa waktu lalu. Persis Solo, yang musim depan akan berlaga di Championship (kasta kedua Liga Indonesia), telah lebih dulu mengamankan tanda tangan pelatih berusia 45 tahun tersebut. Nelson diplot sebagai arsitek utama Laskar Sambernyawa dengan misi membawa tim kembali ke Super League. Ini menjadi tantangan baru bagi Nelson, yang sebelumnya lebih banyak berkutat di level pembinaan usia muda.
Langkah Persis merekrut Nelson menunjukkan ambisi mereka untuk segera bangkit setelah terdegradasi. Dengan pengalaman Nelson di akademi dan sebagai asisten pelatih di level tertinggi, Persis berharap dapat membangun fondasi yang kuat, baik dari segi taktik maupun pengembangan pemain muda. Pertanyaan besarnya, apakah Nelson mampu beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru dan membawa Persis kembali ke papan atas?



