Tunisia Depak Sabri Lamouchi Usai Dibantai Swedia di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Tunisia resmi memecat pelatih Sabri Lamouchi setelah kekalahan telak 5-1 dari Swedia di laga perdana Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026.
- Lamouchi hanya bertahan lima bulan dan mencatatkan satu kemenangan dalam lima pertandingan, meninggalkan Tunisia di dasar klasemen grup.
- Keputusan ini menjadi ujian bagi federasi sepak bola Tunisia yang harus segera mencari pengganti jelang laga krusial melawan Jepang.
Federasi Sepak Bola Tunisia (FTF) mengambil langkah drastis dengan memutus kontrak pelatih kepala Sabri Lamouchi, hanya sehari setelah timnasnya dihancurkan Swedia dengan skor 5-1 pada laga perdana Kualifikasi Piala Dunia 2026, Rabu (19/6) waktu setempat. Keputusan ini menandai kegagalan proyek jangka pendek yang dimulai awal tahun ini.
Kekalahan di Stadion Monterrey itu membuat Tunisia terpuruk di dasar Grup F tanpa poin. Padahal, tim berjuluk Elang Carthage itu datang dengan ambisi besar setelah tampil di Piala Dunia 2022 di Qatar. Namun, performa buruk di bawah arahan Lamouchi membuat federasi tak punya pilihan lain. Dalam lima pertandingan resmi yang ia tangani, Tunisia hanya mampu meraih satu kemenangan, satu hasil imbang, dan tiga kekalahan.
Lamouchi, mantan gelandang timnas Prancis yang pernah menukangi Pantai Gading dan sejumlah klub di Eropa serta Arab Saudi, diangkat pada Januari lalu untuk menggantikan Sami Trabelsi. Trabelsi mundur setelah Tunisia tersingkir di babak 16 besar Piala Afrika 2023 oleh Mali. Namun, Lamouchi gagal memperbaiki performa tim, bahkan cenderung menurun.
Bagi pengamat sepak bola Afrika, pemecatan ini mencerminkan ketidakstabilan tradisional di tubuh federasi Tunisia. โMereka sering berganti pelatih di tengah jalan, dan ini mengganggu kesinambungan proyek,โ ujar analis sepak bola Afrika Utara, Karim Ben Said. โPadahal, Tunisia punya potensi besar dengan pemain-pemain yang merumput di liga Eropa.โ
Dampak dari keputusan ini juga menarik untuk dicermati dari perspektif Indonesia. Sebagai sesama negara yang tengah berjuang di kualifikasi Piala Dunia, Indonesia bisa belajar dari kasus Tunisia bahwa stabilitas kepelatihan menjadi faktor krusial. Timnas Indonesia sendiri saat ini masih dalam proses pembangunan di bawah pelatih anyar. Jika terlalu cepat bereaksi terhadap hasil buruk, risiko kehilangan arah bisa lebih besar.
FTF kini harus bergerak cepat mencari pengganti. Nama-nama seperti Nabil Maรขloul, yang pernah membawa Tunisia ke Piala Dunia 2018, mulai disebut-sebut. Namun, waktu yang sempit menjadi kendala. Pertandingan berikutnya melawan Jepang pada 20 Juni akan menjadi ujian pertama bagi pelatih baru, siapa pun dia.
Pertanyaan besarnya: akankah Tunisia mampu bangkit dari keterpurukan ini, atau justru semakin terperosok dalam persaingan Grup F yang juga dihuni Jepang dan Swedia? Jawabannya akan segera terlihat dalam beberapa pekan ke depan.



