Inflasi Nigeria Tembus 15,93% di Mei 2026: Lonjakan Harga Pangan Masih Jadi Beban
Baca dalam 60 detik
- Laju inflasi tahunan Nigeria naik tipis ke 15,93% pada Mei 2026, didorong oleh kenaikan harga pangan dan barang non-pangan.
- Meski inflasi tahunan masih lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu, tekanan harga tetap meluas di seluruh sektor ekonomi.
- Kenaikan inflasi Nigeria berpotensi mempengaruhi pasar komoditas global dan menjadi sinyal bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia.

Biro Statistik Nasional Nigeria (NBS) melaporkan bahwa tingkat inflasi utama negara itu naik menjadi 15,93% pada Mei 2026, meningkat 24 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga bahan pangan dan barang-barang non-pangan yang masih tinggi, meskipun secara tahunan angka inflasi menunjukkan penurunan signifikan.
Secara tahun-ke-tahun, inflasi utama Nigeria pada Mei 2026 tercatat 15,93%, turun drastis dari 26,06% pada Mei 2025. Namun, secara bulanan, indeks harga konsumen (IHK) naik 0,24% dari April 2026, menandakan bahwa tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Kenaikan ini terjadi di tengah upaya bank sentral Nigeria yang terus mengetatkan kebijakan moneter untuk mengendalikan laju inflasi.
Inflasi pangan, yang menjadi komponen terbesar dalam keranjang IHK, mencapai 16,96% secara tahunan. Kenaikan harga terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti bawang merah segar, jagung, melon, ubi air, tepung singkong, udang kering, cabai segar, tomat segar, gandum, ubi kayu, ubi jalar, dan kentang manis. Meskipun demikian, laju inflasi pangan bulanan melambat menjadi 2,98% dari 3,63% pada April, mengindikasikan bahwa kenaikan harga mulai terkendali dalam jangka pendek.
Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komoditas pertanian dan energi yang volatil justru meningkat menjadi 16,82% secara tahunan dari 15,86% pada April. Secara bulanan, inflasi inti melonjak dari 1,03% menjadi 1,94%, menandakan bahwa tekanan harga di luar pangan dan energi semakin meluas. Hal ini menunjukkan bahwa inflasi Nigeria bersifat broad-based, tidak hanya terbatas pada sektor pangan.
Dari sisi regional, disparitas inflasi antar negara bagian cukup mencolok. Yobe mencatat inflasi tahunan tertinggi sebesar 24,94%, disusul Anambra (23,29%) dan Sokoto (22,60%). Sebaliknya, Niger (3,07%), Plateau (7,10%), dan Edo (7,73%) mencatat kenaikan IHK terendah. Secara bulanan, tekanan inflasi paling kuat terjadi di Benue (8,23%), Bayelsa (7,62%), dan Borno (7,29%), sementara Niger justru mengalami deflasi sebesar -4,55%.
Bagi Indonesia, kondisi inflasi Nigeria menjadi pengingat bahwa negara berkembang masih rentan terhadap gejolak harga pangan dan energi. Meskipun inflasi Indonesia relatif lebih terkendali, kenaikan harga komoditas global seperti gandum dan minyak sawit dapat berdampak pada harga domestik. Selain itu, kebijakan moneter Nigeria yang agresif bisa mempengaruhi arus modal dan nilai tukar, yang pada akhirnya berimbas pada perdagangan bilateral.
Ke depan, NBS memperkirakan inflasi masih akan bertahan tinggi dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika musim hujan mengganggu pasokan pangan. Bank sentral Nigeria kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan permintaan, namun risiko perlambatan ekonomi tetap mengintai. Pertanyaannya, akankah tekanan inflasi ini mereda seiring panen raya atau justru semakin parah akibat gangguan rantai pasok global?



